i wish i could go back to those simple days

semakin rumit isu2 yang orang2 bicarakan padaku, bikin aku semakin pusing, ga spesifik, dan sebagainya.
pertanyaan pusingku adalah, apakah aku dituntut untuk mengerti? memang aku tertarik untuk mengerti, tapi tolong pelan-pelan dulu…

betapa bahagianya masa-masa ketika aku lebih senang dengan studi kasus per kasus. entahlah. sekarang, saking umum dan banyaknya hal yang harus digugat, rasanya jadi serba salah. tak bisa berbuat apa-apa, tak bisa melangkah ke mana-mana. serba salah.

dan aku pun semakin sulit untuk menuliskan segala sesuatu karena harus berpikir seribu kali, mempertimbangkan seribu perspektif yang bertaburan dari orang2 (baca: teman2 mahasiswa). yah, mau ga mau info yang masuk memang jadi bahan pertimbangan juga kan?

mungkin memang mahasiswa itu harus kuat berargumen: rajin terhadap segala ‘fakta’ juga paham terhadap aliran2 dan corak pikir ‘abstrak’-nya. jadi motivasi nih buatku juga.

hhhhh….nemu coretan zaman dulu. betapa simpelnya, tapi udah bisa menyampaikan sesuatu. betapa kangennya aku dengan yang beginian. tapi kalo mau ga “grambyang”, ya harus riset dulu. nah, pasti di situ malesnyah. yok pada rajin riset donk temen2 mahasiswa (termasuk aku juga hehehe….). pasti ada bedanya deh, men-temen. percaya ma aku.

Racun Timbal Mengancam PKL
Balkon 29 Oktober 2003

Hitam, pekat, dan menyesakkan. Tanpa ampun, asap berhamburan dari kendaraan bermotor yang lalu lalang di jalan raya. Seketika itu pula, Pedagang Kaki Lima (PKL) mengusap peluh seraya terbatuk-batuk. Udara macam apa yang mereka hirup?

Kualitas udara di lingkungan perkotaan menurun akibat bahan pencemar udara yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor. Gas buang kendaraan bermotor merupakan sumber senyawa timbal yang berbahaya bagi kesehatan. Timbal di udara bermula dari pembakaran bensin. Timbal ditambahkan pada bahan bakar bensin sebagai anti letup (anti knock agents) untuk meningkatkan angka oktan sehingga penggunaan bahan bakar menjadi lebih efisien. Senyawa ini bersifat racun dan menetap. Ia menghambat produksi enzim untuk hemoglobin sehingga darah hanya membawa sedikit oksigen. Lama-kelamaan, sel dan organ tubuh rusak, terutama ginjal, sistem saraf, dan otak.

Lalu, bagaimana nasib PKL yang setiap hari terkepung udara yang mengandung racun? Apa saja faktor yang mempengaruhi kandungan timbal di udara? Wiwik Widiati, mahasiswa Program Studi Ilmu Lingkungan Hidup Jurusan Antarbidang, mengadakan penelitian mengenai hal ini. Tesis untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat S2 tersebut berjudul “Pengaruh Gas Buang Kendaraan Bermotor terhadap Kadar Timbal Darah PKL (Kasus di Kotamadya Yogyakarta)”.

Penelitian dilakukan di tiga ruas jalan di Kota Yogyakarta, yaitu Jl. Suroto, Jl. Panembahan Senopati, dan Jl. Cornelis Simandjuntak, untuk mengukur tiga variabel. Pertama, kualitas udara diukur dari dua parameter, yaitu parameter fisik dan parameter kimia. Parameter fisik antara lain suhu, kelembaban, arah dan kecepatan angin. Parameter kimia, seperti kadar debu dan timbal udara. Kedua, jumlah kendaraan bermotor diukur pada pukul 07.00-08.00, 12.00-13.00, dan 18.00-19.00 untuk mengetahui kepadatan lalu lintas saat jam-jam sibuk. Ketiga, kadar timbal darah PKL yang berjualan di wilayah itu minimal dua tahun.

Hasil penelitian menunjukkan kadar timbal darah PKL sudah melebihi ambang normal, yaitu di atas 10-20 mikrogram
permilimeter. Ada pula kejutan dalam penelitian ini. Hipotesis yang menyatakan bahwa jumlah kendaraan bermotor yang besar meningkatkan parameter kimia udara, ternyata tak sepenuhnya benar. Jumlah kendaraan di Jl. Cornelis Simandjuntak tak sebanyak jumlah kendaraan di kedua jalan lainnya, namun kandungan timbalnya lebih besar. Hal ini disebabkan tingginya tingkat kemacetan akibat lebar jalan yang tak seimbang dengan kendaraan yang melaluinya. Kemacetan menyebabkan tak efisiennya pemakaian bahan bakar, sehingga gas buang meningkat. Selain itu, kondisi jalan yang dikelilingi bangunan fisik yang rapat dan rendah menyebabkan terhambatnya pertukaran udara tercemar dengan udara yang lebih bersih di atasnya.

Faktor-faktor tak terduga yang mempengaruhi hasil penelitian ini mengilhami peneliti memberi saran agar diadakan penelitian lanjutan. Penelitian-penelitian lanjutan itu antara lain mengenai pengaruh kemacetan, kondisi fisik bangunan sekeliling, dan kerindangan pepohonan terhadap kandungan timbal di udara. Ia juga mengharap diadakannya penelitian yang sama untuk melengkapi analisis statistik.

Penelitian ini tak luput dari kendala. Kesulitan yang dihadapinya adalah pengambilan sampel darah PKL. Sebagian besar PKL takut menghadapi jarum suntik. Hal ini dapat diatasi dengan cara memberikan pengertian kepada PKL, menjelaskan tujuan penelitian, dan memberikan imbalan atas kesediaan PKL.

Sebagai penutup, peneliti memberi saran agar diselenggarakan pemantauan lalu-lintas secara rutin, pengaturan arus lalu lintas, dan juga penambahan jaringan jalan untuk menghindari kemacetan. Selain itu, disarankan ada penghijauan guna mengurangi pengaruh buruk kadar timbal di udara bagi kesehatan.

Read and post comments

|

Send to a friend

Advertisements

One thought on “i wish i could go back to those simple days

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s