baca dan tulis

Sumpah, hari ini Jogja panas banget!

Aku sengaja ngadem di warnet, yang ada ac-nya (air conditioner, bukan ‘angin cendela’ hueeehe). Biarin deh lama2in, habisnya kalo keluar bisa2 kulit, daging, setulang2ku menguap saking udah kering kerontangnya ^^; Eh, di sini aku baru nyadar, ternyata vox-ku udah lamaaaa banget ga diisi. Masa’ bulan mei udah mau berganti, tulisannya baru ada sebiji doang?

Sebenernya, (mungkin) ini karena aku mengalami krisis percaya diri. Utamanya yang berkaitan dengan tulisanku. Manusia kan berubah ya…masa’ ga boleh, kan ga mungkin (wo-ow).

Jadi… ceritanya, di usia aku sekarang, aku masih mengizinkan diriku untuk menjalani proses pencarian jati diri (cieeh). Termasuk dalam hal tulis-menulis. Nah, mumpung aku ga tahu mau nulis apa, kesempatan ini mau aku pake untuk nyeritain hubungan cinta-benci-ku dengan tulis menulis sejak balita (bawah lima puluh tahun, hehheehe)

Saat kecil, kedua orang tuaku bekerja. Aku dimasukkan sekolah sejak berusia 2,5 tahun (itu kata mereka, soalnya terus terang aku lupa atau malah belum tahu berapa usiaku, atau malah belum mengenal konsep “usia” ^_^ ). Pengalaman semasa kecilku ini lebih banyak yang tidak terekam di otakku. Entah kenapa. Aku cuma mereka-reka seperti apa kehidupan nadya kecil melalui cerita orang-orang.

Katanya, aku suka minta dibacain cerita. Cerita anak-anak bergambar tentunya. Parahnya, aku hapal cerita2 itu sampai ke titik komanya. Jadi, aku suka protes sama yang bacain cerita kalo mereka ga bacain secara persis. Gitu deh, mentang2 aku belum bisa baca, kan orang2 yang bacain suka capek n pingin cepet2 aja nyelesaiin cerita itu, biar mereka bisa istirahat. Tapi, aku selalu ga terima. Maunya dibacain lagi secara sempurna. Baik kata2nya, maupun di mana harus pake nada berhenti, nada tanya, nada seru, dll.

Gila ya? Untungnya, gara2 itu orangtuaku ga segan2 untuk membanjiriku dengan buku2 cerita anak2. Kata mereka, sebenernya itu strategi supaya aku agak dipersulit dalam menghapal isi2 buku cerita itu. Yah, logikanya kan semakin banyak buku cerita yang disodorin ke aku, makin kesulitanlah aku menghapalnya. Eh, tapi strategi itu ga berhasil. Justru mereka yang kewalahan, karena aku jadi suka minta bacain buku cerita secara maraton! Kalo lagu, istilahnya medley kali ya? Dan, tetep, harus bener2 bener! Ga boleh ada yang kelewat baik satu kata pun atau satu tanda baca pun!

Kok bisa ya? Awalnya aku juga percaya, tapi setelah orangtuaku, bahkan sampe ke om-tanteku, nenekku, kakekku, bahkan satu-satunya buyutku yang masih hidup mengatakan hal yang sama, mau ga mau aku percaya. Sayangnya, sekarang ini aku cuma dikit dari cerita2 itu yang bener2 aku ingat. Aku lebih suka cerita yang tokohnya hewan2. Misalnya, Kucing dalam Sepatu Bot, Dongeng Kancil (kalo ini sih didongengin ma buyutku), Lomba Lari Kelinci dan Kura2, Kisah Elang dan Ular, Beruang Kecil (aku jadi suka makan bubur hangat), Ulat Kecil yang Berubah Menjadi Kupu2, Urashima Taro (aku jadi pingin liat istana bawah laut!) , Beruang Kutub (kayaknya seru tuh berdingin2 di utub utara), Alice di Negeri Ajaib (kan banyak hewan2nya), Peter Pan (mereka tuh makhluk2 ajaibbb yaa ^_^, bukan manusia wee), dll

Satu pengecualian, aku ga suka Anak Itik Buruk Rupa-nya HC Andersen, soalnya anak itiknya dianiaya. Dongeng anak2 yang ada kekerasannya aku ga suka deh. Pernah aku dibacain dongeng putri2an macam Cinderela, malamnya aku langsung mimpi buruk. Seremmm banget. Ada yang aku digantung di kayu,

telanjang trus ditusuk2 (beneran ini.. aku inget soalnya horor banget waktu itu). Trus habis tu aku dijadiin alas jalannya sodara2 tirinya Cinderela waktu mereka harus ngelewatin selokan. Aku tu direntangin memperantarai selokan jadi kayak jembatannya mereka gitu . Sampe di kepala, sengaja mereka tendang2i sampe mo pecah rasanya, hiiiiiiiiiiii.

Contoh lain tu misalnya Putri Duyung. Walaupun aku suka banget berenang, pingin nyelem n hidup di dasar laut, tapi cerita ini malah bikin aku sedih. Masak suara indah Putri Duyung harus ditukerin sama kaki biar bisa hidup di darat sama Pangeran. Kan Putri Duyungnya malah jadi bisu n ga bisa ngomongin perasaannya. Selain itu ada dongeng Putri Salju, gila deh kita kan anak2 kecil, dikenalin sama yang namanya ‘racun’ yang bisa dimasukin ke makanan sehari2. Yang paling ekstrim tu Si Sepatu Merah. Masak kaki manusia dipotong pake kapak! Gara2nya ga bisa berhenti nari. Keji niannnnn!!!! (Makanya aku paling anti deh sama cerita2 sinetron Indonesia yang sering menempatkan tokoh cewek sebagai yang dianiaya tapi cewek itu malah nangis, ga bisa ngapa2in, atau apa lah kayak minta dikasihani, seolah-olah menderita itu heroik. Tokoh2 jahatnya juga keterlaluan. Yang terlibat dalam pembuatan sinetron2 itu ga mikirin dimensi pendidikan dari tayangan mereka pa?Apa mereka ga mikirin sisi kemanusiaan penontonnya, ga cuma anak2, tapi juga remaja n orang dewasa? Blekhhhh, wuekk.) Eh, tapi kalo Thumbelina, Putri Tidur, n Gadis Penjual Korek Api, aku masih suka kok… kan ga disiksa2. Keterangan tambahan klik aja dua gambar di atas (thumbelina n the ugly duckling) ku komentarin macam2 cerita n kalian juga bisa komen (kalo mauuuu). Asyik lho ngobrolin dongeng anak2!

Nah, sekarang cukup deh ngomongin dongeng anak2nya. Udah puas kan? Lanjut ya…

Saat hampir berusia 6 tahun aku harus pindah ke Djokdja. Terus terang aku ga merasa sedih sama sekali, malah cenderung merasa senang dan tertarik. Seperti apa ya Yogyakarta itu? Aku lupa pertama kali di sini aku tinggal di mana. Yang jelas, awal2 itu kami sering sekali berpindah-pindah rumah. Tentu saja aku sudah bisa membaca sendiri. Buku-buku ceritaku dibawa serta, pokoknya selalu setia menemani deh (cieee). Sampai akhirnya kami tinggal di rumah kami sendiri, yang belum selesai dibangun, di daerah Yogya utara nan sejuk (Kaliurang atas). Anak2 tetangga datang berkunjung dan memperkenalkan diri.  Aku diajak bermain pasar2an, boi2nan, petak umpet, gobak sodor, cendhak dodok,. tamu2an, dokter2an, masak2an, sampe main bola. Baru kusadari aku ga punya boneka buat main rumah2an, hehehehe…

Kata sahabat2 masa kecilku, permainan yang aku perkenalkan pada mereka adalah: guru2an! Aku selalu jadi gurunya, teman2ku jadi murid2 yang kuajari entah apa. Konon aku adalah Bu Guru yang galak soalnya murid2nya suka gantian ke kamar mandi terus2an, trus di kelas malah sembunyi hehehheee…

Saat itu aku belum memikirkan sekolah, padahal seharusnya aku sudah duduk di kelas 2 SD. Sayangnya, karena keluargaku pindah bukan saat pergantian tahun ajaran, aku belum lulus dari kelas I SD-ku dulu, dan tidak ada ujian susulan sehingga aku harus mengulang kelas I, sama ajalah dengan mendaftar jadi siswa baru. Ternyata di Yogya ini ada peraturan aneh. Daftar SD minimal usia 7 tahun. Aku ga mau menunda sekolah setahun lagi. Maklum, udah kebiasaan dari kecil kali ya? Aku bener2 ga mau kalo ga sekolah. Juga ga mau kalo harus TK lagi.

Akhirnya, ada SD yang bersedia menerimaku. Namanya SDN Pakem IV. Sekolahnya di tengah2 ladang tebu yang luas banget. Bentuk bangunannya cuman memanjang dan tiap kelas gurunya satu, rata2 muridnya ga sampe 10. Yang sempat bikin heboh, guru2 itu tidak ada yang mengajar dengan Bahasa Indonesia. Mereka ngajarnya pake bahasa Jawa, padahal aku kan sama sekali ga tahu Bahasa Jawa satu patah kata pun. Waktu aku bertanya (dalam bahasa Indonesia tentunya), malah guruku bilang, “kamu ngetes ya?”. Satu2nya pelajaran yang membuatku merasa aku ini sebenarnya tidak idiot adalah matematika. Yang lainnya, sumpah mampus aku ga ngerti sama sekali mereka itu ngomong apa. Aku rasa, wajarlah kalo sampe sekarang aku cenderung memilih untuk belajar sendiri lewat bacaan daripada di kelas.

Pulang sekolah, aku ingin bicara dengan orangtuaku. Ibuku bilang, “Sana ngomong sama bapakmu.” Bapakku sedang membaca koran di lantai. Berkali2 aku bilang, “Pak, aku mau ngomong”. Hasilnya nihil. Aku dicuekin. Sampai  kutepuk2 pipinya, dia tetap tak berpaling.  Akhirnya aku jongkok di koran yang dibentangkannya di lantai, sedang dibaca. Tubuhku yang berjongkok hanya selebar sepertiga koran itu. Sekali lagi aku bilang “Pak, aku mau ngomong, penting”. Aha, yesss, paling tidak dia bereaksi tuh. Mau tahu reaksinya apa? Dia menggeser tubuhku agar korannya tidak kutindih, mengangkat koran itu ke arah yang lain, membentangkannya lagi, dan kembali asyik membaca. Mau tahu kata2 yang diucapkannya? Dia bilang, “Selesaikan, aku ga mau dengar.” Sebagai tambahan informasi nih, dari tadi dia sama sekali tidak mau melihat wajahku.

Sejak itu, 6 tahun usiaku, aku bertekad untuk tidak bercerita apapun, pada siapa pun. Prinsipku cuma satu kata: selesaikan.

Kemudian, di tahun yang sama aku mulai mengenal buku harian. Mulanya, waktu liburan kami berwisata bersama keluarga di Jakarta. Aku berlama-lama melihat buku tulis kecil bersampul tebal di Gramedia. Baru pertama kali aku melihat buku seimut itu. Aku senaaaang sekali setelah dengan mengumpulkan segenap keberanian, aku minta itu dan ibuku mau membelikannya.  Itulah buku harian pertamaku. Sampulnya bergambar Hello Kitty dengan latar belakang kebun tulip, dan halaman pertama kutulisi beberapa kalimat tentang ceritaku berlibur di istana boneka Dufan.

Sampai sekarang aku masih menulis buku harian. Biasanya dikasih buku2 yan tidak terpakai dari orang tuaku. Aku lebih suka buku yang tebal supaya tidak cepat habis. Seperti orang gila, aku bisa menulis berlembar2, atau hanya satu kata. Kadang2 menggambar (tidak sering karena aku tidak terlalu suka menggambar di kertas bergaris). Kadang2 menempel2 kolase, atau guntingan gambar yang menarik. Seingatku, aku paling sering menempelkan foto2 hewan dari koran, atau gambar tempat2 yang rimbun.

Waktu SD, aku bercerita kepada buku harianku seperlunya. Paling hanya satu halaman buku harian kecil. Ceritanya
pun khas anak sekolahan, misalnya tentang olahraga kasti, gangguin orang yan lagi beol di ladang tebu, jaga koperasi, main2 ke rumah sakit jiwa (tapi cuma sampai di luarnya), temanku yang cuma suka makan timun, acara taman gizi alias ada acara makan bubur kacang hijau dan minum susu gratis di sekolah, ibu2 guru yang jarang ngajar karena mau ke pasar, pelajaran kosong yang selalu diisi dengan pelajaran olahraga, main kartu waktu ulangan, acara2 pramuka, lagi ngetrennya lagu “ooooooh, sungguh teganya teganya teganya (sampe 100 kali!)”, dan lain2. Tapi tetap, tulisan yang paling berkesan buatku adalah tulisan pertama kali (tentang wisata ke istana boneka dufan tadi itu lhooo) yang aku akhiri dengan kalimat: “Orang itu, pasti lebih mikirin dirinya sendiri sendiri”. Aku menulis begini karena waktu mau naik kapal kecil di istana boneka itu aja, semuanya rebut2an. Ga ada yang mau ngalah. Aku malah cenderung mengamati ‘keanehan’ itu, jadinya dapat tempat duduk paling belakang, hehehehehehe. Eh iya, waktu kelas 4 cerita pahitku di SD malah dimuat lho di KorCil (Koran Kecil), rubrik di Republika tiap hari Minggu. Dikasih wesel 15 ribu rupiah plus kaos Korcil bergambar bunga matahari. Seneng banget, apalagi setelah itu banyak sahabat pena yang mengajak berkenalan. Tulis menulisku pun meluas ke dalam format surat menyurat (atau kalau sekarang istilahnya diversifikasi kali ya? hehehe).

Waktu SMP, selain surat2an dengan teman2 SDku, aku mulai terpengaruh dengan cerita2 detektif. Mulai dari komik Detektif Conan sampai Agatha Christie. Komik kutemukan di taman bacaan alias tempat persewaan komik di dekat sekolah. Buku karya Agatha Christie diperkenalkan oleh temanku, Nyoman namanya. Buku2 di perpustakaan SMP Negeri 8 Yogyakarta saat itu terasa cukup lengkap buatku, dan sangat kucinta! Eh, tapi aku bukan penggemar Agatha Christie lho ya. Cuma 2 bukunya yang kubaca: yang pertama adalah Pembunuhan Roger Ackroyd (yang ternyata pembunuhnya adalah tokoh “aku”!), yang kedua kalo ga salah judulnya Buku Harian Josephine (anak kecil yang bunuh diri…tidaaakkk). Gara2 cerita2 detektif itu, gaya ku dalam menulis buku harian berubah. Aku menuturkan peristiwa2 secara detil. Yah, ga sampe mencatat jam kejadian sih, tapi kupikir seandainya ada detektif yang datang menyelidiki kasus, aku bisa menyediakan informasi yang apa adanya (haaah, mana ada? terlalu kebawa imajinasi ^^;)

Sudah SMA, ternyata detektif yang kuharap2 tidak pernah datang. Agak kecewa sih (hehhehe), n ternyata berpengaruh juga sama gaya penulisan buku harianku. Celotehku semasa SMP yang cenderung liar dan bertabur humor, berubah jadi tulisan2 “renungan” (cieileehh). Waktu SMP aku enak2 aja ngebandel, sejak SMA ngebandelnya sih tetep tapi cenderung sok filosofis (huekkkk, apaan sih). Maksudku pembangkangan2ku ga cuma buat seneng2/ hura2 tapi ada nilai2 yang kupertanyakan. Malu banget kalo kuingat2 sekarang, waktu SMA tuh tulisanku kebanyakan curhat, kayaknya hidupku nelongsooo (penuh penderitaan) banget.

Tapi di sisi lain, di SMA inilah aku berkenalan dengan dunia tulis menulis lain, selain menulis buku harian dan surat. Guru Bahasa Indonesiaku mempercayaiku untuk mengikuti lomba penulisan esai. Waktu itu aku bergairah menuntaskan tulisanku. Temanya “Memperingati Seabad Bung Hatta”. Rasanya menyenangkan sekali membaca Seri DiMata, buku tentang kesan2 orang2 terdekat Bung Hatta terhadap beliau. Kisah2nya humanis dan simpel. Kayaknya tulisanku cukup berhasil lho dan dapat pengakuan juga (cieeh). Menurutku karena poin2nya jelas dan baru, runtut dan kutulis dengan simpel dan humanis. Yang juga ga kalah penting: jelas (karena waktu itu trennya krismon, kontestan2 lain kebanyakan ga jelas arah masukin soal krisis moneter). Kata juri menanggapi yang seperti itu, “kalau ga relevan jangan dipaksakan”. Anehnya, tulisanku ini malah dibenci sama sahabatku masa kuliah, si Izzah. Aku menangkap dia suka tulisanku yang humoris tentang peristiwa2 sehari2. Tentang esaiku dia malah bilang, “Kamu tu nulis apa to Naaaaad, kok terpaksa”. Padahal teman2 pesantrennya waktu itu suka lho dengan tulisan2ku, termasuk yang satu itu. Dan, aku sebagai penulisnya terus terang bingung kalo dibilang terpaksa, karena waktu menuliskannya sangat lancar dan ga terpaksa, bahkan aku suka dan menikmatinya. Lah, masa’ nulis esai kok harus sama seperti menulis buku harian? Justru menurutku itu yang namanya maksa. Udah jelas temanya beda, jenis tulisannya juga beda, masa’ disamakan? Ya nggak pada tempatnya lah. Waktu itu aku berusaha menerima n menganut pendapatnya, tapi sekarang baru kukeluarin bahwa ternyata sebenernya waktu itu pun aku ga cocok dengan pendapat tersebut, sekarang juga.

Di bangku kuliah, dosen kami lumayan sering ngasih tugas nulis. Ada yang kutulis sepenuh hati, ada yang setengah2. Pengakuan dari dosen (satu2nya yang membaca karya2 itu selain aku) yang menilai tugas2 itu seharusnya cukup membuatku berlega hati. Sayang sekali aku justru merasa minder dengan teman2 kampusku, terutama yang bergelut di pers mahasiswa fakultas maupun universitas, yang gaya penulisannya jauuuuuuuuhhhhh lebih rumit daripada aku. Hampir semuanya seperti itu dan sebenarnya aku sangat benci dengan gaya penulisan yang dirumit2kan supaya terlihat pintar. Seorang teman yang bernama Indie kujadikan penulis favoritku justru karena gaya menulisnya yang simpel, bahkan jerniiiih sekali. Poin2 apa yang ia bicarakan jelas dan tidak ngelantur. Yang terpenting, tulisannya terasa dewasa, karena sudah bisa mengendalikan emosi.

Sayangnya hanya satu orang yang seperti itu. Yang lainnya kalo menulis uamit-amit rumitnya atau berbelit2nya. Aku berusaha mengerti sih, cuman satu sisi self-esteem ku koyak berderai karena aku merasa tertuntut untuk menulis seperti itu. Aku tidak pede dengan tulisanku, gaya penulisanku maupun isinya. Apalagi sahabat2 terdekatku mengatakan aku menulis tidak pake perasaan. Monyettt, emangnya itu tuh tulisan apaan? Emangnya nulis sesi curhat?! Artikel ilmiah kok ga dinilai dari apa yang disampaikan (isinya), INFORMATIFNYA, cara penyampaian yang sistematis dan argumentatif. Malah merengek2 minta tulisan yang berperasaan! Yeeee, seenak jidat kalian! Yang bener aja!!!

Sayangnya aku bukan orang yang bisa menunjukkan secara langsung tulisan2ku pada banyak orang, dan…. komentar sahabat2 terdekatku (sedikit orang yang baca tulisan2ku) malah seperti itu. Hanya satu orang yang bisa menanggapi tulisan2 itu sesuai dengan jenisnya. Yang lainnya, hatiku mo bilang gini sama mereka: “sebenarnya kalian peduli dengan cita2ku atau sekedar ingin aku berbagi perasaan dengan kalian sih? Harus dibedakan dong. Bidangnya lain. Porsinya sendiri2. Emang sih, kalian bilang aku pasti pengertian, jadi kalian bisa ngomong apa aja dengan enak. Aku berusaha menerima sih, tapi kalau kupikir2, apakah masukan kalian itu tepat, maksudku, pada tempatnya? Bagaimana mungkin aku jadi tidak leluasa menuliskan pikiran2 bila tidak dengan embel2 gaya ‘penulisan yang berperasaan’?”

Sekarang aku sedang dalam titik yang, yaaahh, cukup penting buatku. Karena selama ini aku selalu berusaha memenuhi keinginan orang2 terhadapku, termasuk soal tulisan2ku. Ketika menulis di vox ini pun, yang aku maksudkan sebagai

renungan, malah dipertanyakan kenapa aku tidak bercerita apa2? Lho emangnya siapa yang mau menuliskan cerita? Orang (lha wong) aku menuliskan butir2 renungan dari lubuk hatiku yang terdalam kok. Terus, harusnya aku bisa lebih menghargai diriku sendiri (Izzah sendiri yang bilang begini, namanya juga sahabat ^_^ thx banget… i love u!), bahwa bahasa

yang lugas bukan berarti lebih buruk daripada bahasa yang berselubung, penuh metafora2 karena ingin sok nyastra. Buktinya sastrawan2 sendiri misalnya Pram juga realis n lugas nulisnya,
deskriptif n jelas, begitu pula Ahmad Tohari, Kuntowijoyo, Umar Kayam (kumpulan cerpen ‘Seribu

Kunang2 di Manhattan’ aku suka banget, tapi Para Priyayi aku ga terlalu suka, kayaknya waktu bikin ini dia lagi ga konsen n terburu-buru), Hamka, pengarang2 Rusia yang aku suka banget: Dostoyevsky, Chekov, Gogol, (jago bener pengarang2 ini, bahkan segetir2nya cerita, mereka masih bisa ber-humor ria nyelip2 satire. Eh tapi aku ga terlalu suka Tolstoy, n juga ga suka

Solzhenitsyn soalnya lambat banget alurnya, keburu bosan, kalo
Maxim Gorky masih boleh lah), Camilo Jose Cela dengan ‘Keluarga Pascual Duarte’-nya (thx Windu!), cerpen2 Jhumpa Lahiri

,

Voltaire juga nulisnya simpel walau itu semacam sindiran2, kisah2 kaum pecundangnya John Steinbeck (thx Bosman!), Santiagonya Hemingway, belum lagi gaya2 Alexander McCall Smith atau petualangannya Karl May. Budi Darma pun sebenernya mengalir kan, emang kadang terasa surealis sih. Paling yang agak mikir berat itu Iwan Simatupang atau Camus karena absurditasnya, tapi tetap penyampaian mereka kan lugas, bukan model “ini ngomong apaaaaan sih?”. Ada sih yang ngelantur rada ajaib misal Marquez (hehhehehe). Ya tapi emang beda sih kalo misalnya baca James Joyce atau Umberto Eco. Kapan2 deh tentang hal ini kupinjam lidahnya Dony GA yang mengantarkan Joyce. Eh…tapi tahu ga, selain itu semua aku juga mo bilang bahwa, “penulis2 nonfiksi sekalipun bukan berarti harus belibet.” Tanda seru. Titik.
—(Keterangan dikit nih, sebenernya pingin nampilin gambar2 buku2 sastra Indonesia semacam Gadis Pantai, Ziarah, Ronggeng Dukuh Paruk, atau Seribu Kunang2… tapi di Amazon ga ada gambar sampulnya… ga keluar, yaaah…cuma ada Gadis Pantai edisi Inggris tapi sampulnya aku ga suka… Gimana sih Amazon n Vox? Tampilin juga donk karya2 non-bhsInggris/Prancis/Jepang dengan gambar sampulnya!)

Akhirnya biarlah aku menikmati proses ini, perjalananku dengan tulis menulis. Sudah setahun lebih aku tidak menulis sama sekali (artikel). Kuharap di vox yang telanjur kucintai ini (dan berhasil membuatku merasa nyaman dan betah), aku bebas berceracau. Jangan lagi diriku sendiri yang menghalang2inya (menghalang2i ceracau2 itu). Mau nulis peristiwa sehari2 kek, renungan kek, artikel kek, suka2 aku. Ini kan tempatku untuk “reflect, and be sober. stay truthful to yourself because allowing dishonesty means letting no lesson learnt”.

Walau terkadang pahit, asem, menyakitkan ataupun memalukan, mo tulisanku jelek kek bosok kek, aku harus jujur (artikel ilmiah sekalipun). Namanya juga belajar.

Akhir kata, makasih…

NB: Mbak Desi, ke mana aja? Aku juga suka banget tulisan2 Mbak Desi (di sini n sini) dan Taufikul (soalnya mengalun). Menurutku mereka berbakat deh

Send to a friend

Advertisements

2 thoughts on “baca dan tulis

  1. Nad, aku memang bersalah dan terlalu banyak ngomong(payah ya?)…mungkin aku tidak pada konteksnya seperti yang kau bilang.Tp kalau lihat dari sejarah komentarku waktu itu, terus terang aku takjub dengan caramu bercerita. Dari kecil aku selalu ingin bercerita tapi gak ada yang akan mendengarku, gak ada yang menanyai pendapatku tentang sesuatu, aku juga takut kalau aku cerita membuat semua orang akan memakiku. Akhirnya aku berlari pada puisi. Karier menulisku dimulai dari PUISI. Aku menulis puisi ketika kelas tiga SD(nilaiku paling bagus dan karyaku dimuat di hardiknas propinsi), tapi sayangnya aku hanya membacanya diam-diam. Guru-guru gak akan menunjukku membaca di depan kelas, aku kan nakal sekali waktu kecil. Moral salah satu syarat bagi seorang anak itu boleh show up atau tidak. Bahkan aku yang masih kelas tiga SD itu "dipaksa" bermain dengan metafora. aku mulai menulis diari dari MTsN sampai SMU tapi aku gagal bercerita dengan baik. Aku kelu. Aku harus bersembunyi dibalik kata-kata. Walau begitu, sewaktu MtsN, essai Sejarah islamku terbaik se sekolahan.aku berkenalan dengan novel-novel balai pustaka dan Sejarah dunia, aliran kepercayaan dan tokoh-tokoh. Dan aku membaca puisi dan jadi sutradara amatir dari puisi panjangku pada perayaan maulid nabi di sekolahan. tetapi aku tetap tidak bisa bercerita dengan jernih. Aku frustasi.Semasa SMU, aku semakin produktif menulis puisi maupun Essay(cerpen). Ada seorang fans beratku, yaitu guru bahasa Indonesiaku (Trims pak Salimoel Amien). Beliau yang membaca semua karyaku dan selalu memberi komentar dan kritik membangun. Beliau yang mengirimkan karyaku di media massa dan dimuat(hiks aku tidak punya satupun tulianku itu!). aku mulai mengenal Driyakarya, Bertens, Freud, Jung, Brower, Putu wijaya, korrie layun rampan, sadawi,dante allegari, ayu utami, Umar kayam, Kunto, BD, Chekov, dostoyevsky, Gogol, gunter grass, anand krishna, basis dan horison mboh bla..bla…. Tapi aku tetap tidak bisa bercerita. Aku semakin tidak bisa mendefinisikan apa yang harus kuceritakan.aku selalu membebani semua kata-kata dengan kekuasaan tafsirku. Aku tidak bisa memahami kata seperti adanya. Oya, karier PUISIku masih berlanjut: aku menang juara 1 dan harapan 1 cipta puisi sewaktu hari kartini. Dan beberapa hari berikutnya, sewaktu upacara, aku dipanggil kepanggung. dan beberapa kali kejuaraan cipta puisi. Tapi aku tetap frustasi, tidak bisa bercerita. Sebenarnya aku benci menulis PUISI. Hingga aku membaca tulisanmu itu. Aku sangat iri dengan ketulusanmu berbahasa. Tidak seperti diriku yang selalu bersembunyi diketiak tipu muslihat tafsir kata-kata. Kupikir kamu sungguh tulus dan sensitif dengan kesederhanaan itu. Kamu bisa menceritakan nenek buyutmu dengan cerita yang jernih, sedangkan aku pernah membuat tulisan tentang mbah putriku dengan puisi. Justru aku merasa, kelak kamu akan menjadi penulis yang klasik dan hebat.Kau percaya tidak, sekarang aku tidak menulis puisi lagi. Sama sekali. Kukira menulis di kampus dan disebuah pers mahasiswa akan bisa membuatku bercerita. Ternyata tidak. Kadang aku merasa, aku ini terlalu memaksakan diri. Mungkin aku hanya ngoyo dan sama sekali tidak berbakat. Sebenarnya aku selalu merasa, kamu diam-diam bilang: howalah zah-zah koyo ngene wae ndadak kangelan nulise….Yah, mungkin komentarku tentang essai bung hattamu tidak pada tempatnya. Maaf, jika membuatmu risau. Sudahlah, harusnya tidak ada yang bisa menghalangi dirimu untuk jadi dirimu sendiri.Regardsizzah

Share your thoughts

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s