kuldesak studi poskolonial

hihihi, ga usah dibaca kecuali kamu emang perlu info tentang ini. okay?

Pendahuluan

Sudah jamak diketahui khalayak, pasca peristiwa 9/11 (Sebelas September) 2001, dunia tidak akan pernah sama seperti sebelumnya. Runtuhnya dua menara kembar WTC (World Trade Center) menyuguhkan bentuk perlawanan melalui bahasa simbol yang membelalakkan mata. Tak kalah mengejutkan, tanpa membuktikan dengan pasti siapa dalang sebenarnya dari peristiwa tersebut, dengan berbagai dalih, pemerintah Amerika Serikat yang dipimpin George Walker Bush memutuskan untuk melancarkan agresi terhadap Afghanistan. Bibit peperangan telah dikobarkan.

Banyak kepala seolah heran sekaligus tak percaya, bagaimana mungkin peristiwa-peristiwa yang sebelumnya bahkan tak pernah (atau tak berani) terbayang dalam alam mimpi tersebut bisa terjadi atau dibiarkan terjadi. Apakah ini semata masalah kelengahan? Ataukah ada pembacaan lain dalam pemaknaan terhadap peristiwa yang sering disebut-sebut sebagai tragedi “September Hitam” itu?

Berbagai kalangan masyarakat mulai mencoba mengendus dan memperkirakan apa yang menjadi latar belakang dan rasionalitas bergulirnya peristiwa semacam itu, juga seluruh reaksi yang menyertainya. Tak dapat disangkal, munculnya peristiwa itu menampar kesadaran dunia bahwa ada sesuatu yang salah dalam relasi inter-nasional. Namun, mengidentifikasi “sesuatu yang salah” tersebut sama sekali bukan persoalan sederhana. Proses tersebut sama rumitnya dengan hiruk pikuk kebisingan dalam mencari versi tunggal dari “yang benar”.

Bak rentetan drama, lakon-lakon terus ditampilkan, dengan aktor-aktor yang dimunculkan entah sebagai kambing hitam maupun sebagai sosok pahlawan. Dunia menjadi panggung, tempat wacana-wacana saling bertanding. Kebenaran tidak didapat secara intrinsik dalam dirinya sendiri, melainkan merupakan klaim dari pihak yang berhasil menguasai pertarungan wacana. Dengan demikian, aneka wacana tandingan dapat dibungkam dan dianggap tidak signifikan, bahkan tidak relevan untuk didengarkan.

Lebih jauh lagi, peristiwa demi peristiwa justru dipakai untuk melegitimasi tindakan-tindakan sepihak dari sang agresor. Genderang perang terhadap “terorisme” dikumandangkan oleh “teroris” itu sendiri (the real terrorist=US Imperialism). Tiba-tiba terjadi pemitosan kata “teroris” yang dilekatkan dengan “Islam” dan “Timur Tengah”. Perlakuan-perlakuan rasis pun tak terhindarkan. Media massa berperan dalam menampilkan berita-berita yang menggiring opini publik. Padahal tidak demikian dengan apa yang terjadi di Guantanamo atau Bosnia, pembantaian yang sedari dulu terjadi tidak dibesar-besarkan bahkan cenderung ditutup-tutupi dan diacuhkan begitu saja. Contoh-contoh kontras semacam ini menunjukkan bahwa masih ada oposisi biner dalam relasi kekuasaan. Pilihannya ada antara menguasai atau dikuasai.

Terbukti pada kenyataannya, tidak ada yang bisa mencegah langkah yang ditempuh oleh pemerintah Amerika Serikat tersebut. Padahal, mayoritas masyarakat seluruh dunia telah sontak menolak. Tak kurang-kurang masyarakat bersatu-padu, baik menggalang aksi turun ke jalan maupun mengumpulkan tanda tangan untuk melayangkan petisi. Bagi mereka, agresi militer atau perang samasekali bukan pilihan. Bahkan “Persatuan Bangsa-Bangsa” sendiri, yang pasal pertama tujuan berdirinya berbunyi “mencegah generasi mendatang dari ancaman perang”, ternyata tak berkutik menghadapi gaya “koboi kesiangan” negara adikuasa.

Mengenai hal ini, satu kata yang muncul menawarkan penjelasan ditunjuk oleh Michael Hardt dan Antonio Negri (2000). Tak lain, kata tersebut adalah: “Empire”, satu kata yang menggiring pada kata selanjutnya: penaklukan. Selain sang “Empire”, yang ada ialah ketidakberdayaan. Menurut Najesh Rao (2005), kajian-kajian semacam inilah yang seharusnya menjadi pokok perhatian studi poskolonial kontemporer.

Teori Poskolonial

Istilah “pos-kolonial” tidak menyatakan secara langsung “setelah kolonialisme”. Wacana poskolonial menganalisis bagaimana fakta sejarah dari kolonialisme Eropa berlanjut membentuk hubungan antara Barat and non-Barat setelah bekas koloni-koloni meraih kemerdekaan mereka. Poskolonialisme menunjukkan proses perlawanan dan rekonstruksi oleh non-Barat. Teori post-kolonial mengeksplorasi pengalaman penindasan, perlawanan, ras, gender, representasi, perbedaan, penyingkiran, dan migrasi dalam hubungannya dengan wacana-wacana penguasa Barat mengenai Sejarah, Filsafat, Sains, dan Linguistik (Appignanesi, 1999).

Secara teoritis, pendekatan poskolonial banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran dari poststrukturalisme yang terkenal dengan kata kuncinya ‘dekonstruksi’. Dalam Of Grammatology, Spivak menerangkan bahwa dekonstruksi adalah upaya untuk:

… menemukan teks marginal yang menjanjikan, menyingkap, membongkar momen yang tidak dapat dipastikan dengan alat penanda yang positif, membalikkan hierarki yang ada, agar dapat diganti;, agar dapat membangun kembali apa yang selalu telah tertulis. [saya mengutip dari Madhan Sarup, Posstrukturalisme dan Posmodernisme: Sebuah Pengantar Kritis, Yogyakarta: Jendela, 2004, halaman 85-86].

Melalui konsep dekonstruksi, poskolonialisme menempatkan diri sebagai kritik terhadap suatu badan pengetahuan (body of knowledge) yang menjadi bumbu kolonialisme yakni penyebaran “peradaban”. Selain motif-motif ekonomi dan kekuasaan, yang tak kalah penting adalah kerangka pikiran (state of mind) bahwa dunia non-Barat adalah dunia yang tidak beradab, oleh karena itu perlu “dicerahkan” menurut standar “humanisme Barat” itu sendiri. Dengan dekonstruksi, studi poskolonial menolak klaim universalitas “humanisme Barat” tersebut.

Karya monumental yang dirayakan sebagai tonggak berdirinya studi poskolonial adalah “Orientalism” (1991) oleh Edward Said. “Orientalism” menyoroti ketidakseimbangan relasi sejarah antara dunia Islam, Timur Tengah, dan “Timur” di satu sisi, dengan imperialisme Eropa dan Amerika di sisi lain. “Orientalism” menggali pemahaman yang belum diangkat sebelumnya, yakni penjajahan (imperialisme/ kolonialisme) sebagai perilaku kultural dan bahkan epistemologis (keilmuan) yang menyertai nafsu untuk mendominasi dan menguasai wilayah-wilayah yang jauh. Seperti yang tertera dalam bukunya “Culture and Imperialism” (1993), Edward Said mengatakan sebagai berikut:

Neither imperialism nor colonialism is a simple act of accumulation and acquisition. Both are supported and perhaps even impelled by impressive ideological formations which include notions that certain territories and people require and beseech domination, as well as forms of knowledge affiliated with that domination.

Pembacaan Edward Said tersebut memberikan sudut pandang baru dalam memahami relasi poskolonial dari kacamata “the colonised“, bukan dari kacamata “the coloniser“. Terobosan-terobosan yang dilakukannya dapat disebut sebagai bentuk-bentuk dekonstruksi terhadap wacana dominan yang bias kolonial atau “Barat” baik Eropasentris maupun Amerikasentris.

Ironisnya (atau justru mujurnya), kritik Said mendapat pengakuan internasional karena landasan epistemologis dari poststrukturalisme, yang notabene juga “barat”. Sebagai jenis aliran pemikiran, di satu sisi dobrakan-dobrakan yang ditawarkan poststrukturalisme sangat menggairahkan olah-pikir. Namun, di sisi lain pergulatannya bisa membuat “muntah” atau justru “lemas kelaparan” karena sifatnya yang cenderung sangat dinamis dan “akrobatik”, penuh dengan penjungkir-balikan di sana-sini tanpa ada jeda sejenak pun untuk mengidentifikasi yang namanya kejelasan ataupun berpijak mapan dalam satu bentuk tertentu.

Namun, hal tersebut tidak menghalangi studi poskolonial untuk terus mengembangkan diri. Bentuk sejauh ini, analisis poskolonial mewujud dalam debat pembentukan identitas yang terus berlangsung antara klaim nasionalisme dan internasionalisme, esensialisme strategis dan hibriditas, penerimaan dan penolakan, serta politik struktur/totalitas dan politik fragmen (untuk penjabarannya bisa dibaca di Leela Gandhi, judulnya lupa, maaf yach). Yang patut digarisbawahi dari studi poskolonial adalah pembacaannya terhadap

the seductive narative of power, and alongside that the counter-narrative of the colonised—politely, but firmly, declining the come-on of colonialism. (Gandhi, 1998).

Studi poskolonial menempatkan dirinya sebagai kajian yang tak ingin terlepas dari segala macam konteks historis tertentu yang menaungi bangsa-bangsa yang merasakan dampak-dampak dari penjajahan. Dampak-dampak tersebut tidak bisa dibilang “usai sudah” atau “berakhir” begitu diproklamasikannya kemerdekaan suatu negara dari penjajahan. Justru dampak-dampak tersebut masih dirasakan sampai sekarang.

Masyarakat bekas koloni sebagai kesatuan poskolonial memiliki luka atau trauma penjajahan yang terus ikut serta dalam setiap proses pembentukan jati diri kebangsaan. Menurut Leela Gandhi, negara-bangsa poskolonial cenderung berusaha lepas dari luka tersebut dengan mengupayakan sebentuk diskontinuitas terhadap masa lalu yang menyakitkan itu. Hal ini menyuburkan tumbuhnya amnesia sejarah yang menjadikan masyarakat tercerabut dan tidak pernah bisa kembali pada identitasnya semula, yakni identitas sebelum mengalami penjajahan. Sedemikian besar pengaruh penjajahan, sehingga mempengaruhi pola pikir, pola penghayatan hidup serta pola perilaku masyarakat poskolonial. Negara-bangsa yang terbentuk pun seolah mengalami krisis identitas atau krisis percaya diri, tidak memiliki pegangan yang mantap dan jelas sehingga mudah digoyahkan dan diombang-ambingkan oleh relasi ketergantungan.

Jalan Buntu Studi Poskolonial

Di kalangan akademisi, teori poskolonial tak luput dari kritik. Dicurigai bahwa pada dasarnya teori poskolonial tak lebih dari gaya baru “Barat” untuk terus memperlakukan ilmu dan budaya non-Barat sebagai “yang lain” yang “eksotis” dari kacamata “Barat”. Studi poskolonial pun pada gilirannya melihat dirinya dalam kacamata barat, terkadang ada semacam upaya-upaya untuk bersolek demi menghadirkan sosok “non-Barat” disesuaikan sebagaimana yang dibayangkan oleh Barat tersebut. Non-barat menjadi gagap terhadap permasalahan yang dihadapinya sendiri, dan mencocok-cocokkan profil dirinya dengan imaji-imaji kabur yang saling berebut posisi. Isu-isu mengenai hibriditas dan diaspora menjadi senjata yang semakin menghablurkan spesifikasi identitas poskolonial menjadi sesuatu yang terus berkontradiksi dengan dirinya sendiri.

Dalam perkembangannya, studi poskolonial cenderung diidentikkan sekedar sebagai studi-studi “masa lalu”, terutama soal wacana dan tekstualitas. Studi poskolonial acap kali dianggap abai terhadap ranah-ranah praksis dan sibuk bergelut dengan bahasan-bahasan yang sangat melangit dan menjadi konsumsi segelintir elit intelektual semata. Dari segi peristilahan saja, poskolonialisme masih digugat oleh berbagai pihak. Seperti pernyataan Leela Gandhi (1998):

… some critics invoke the hyphenated form ‘post-colonialism’ as a decisive temporal marker of the decolonising process, others fiercely query the implied chronological separation between colonialism and its aftermath—on the grounds that the postcolonial conditions is inaugurated with the onset rather than the end of colonial occupation. Accordingly, it is argued that the unbroken term “postcolonialism” is more sensitive to the long history of colonial consequences.

Nagesh Rao menilai studi poskolonial gagal dalam menyediakan kritik terhadap kolonialitas sehingga bentuk-bentuk imperialisme terus bertahan sampai sekarang. Menurutnya, ini dikarenakan studi poskolonial menolak bentuk-bentuk universalisme, padahal imperialisme kapitalisme global yang semakin mengganas dan merajalela tidak mungkin dilawan tanpa adanya suatu kesamaan dalam konteks universal.

Namun, jika mengklaim sebagai suatu universalitas baru, studi poskolonialitas akan kehilangan relevansinya dalam menyeruakkan suara-suara minor yang selama ini terpinggirkan. Oleh karena itu, studi poskolonial seakan menghadapi sebuah jalan buntu atau dilema.

Jika ditanya mengenai apa sasaran dan arah yang dituju dari pendekatan-pendekatan poskolonial, bisa dipastikan tidak akan berujung pada sebuah jawaban yang seragam. Tidak ada kesatuan dari studi poskolonial itu sendiri. Yang ada sifatnya serba terpencar, namun jika mengharap sebuah kesatuan maka akan menghilangkan substansi studi poskolonial yang mencoba “lokal” dan “partikular”. Yang tak boleh terlupa, studi poskolonial menolak dijadikan sebagai satu “narasi besar” baru. Perdebatan mengenai hal-hal itu memang tiada habisnya, yang terkerucutkan pada sebuah kuldesak.

Epilog: Politik Poskolonialitas

Dalam editorial Jurnal Online “Postcolonial Text” vol. 2.1, sebuah konferensi bertajuk “The Politics of Postcoloniality” yang diselenggarakan di Universitas McMaster, Hamilton, Ontario, Kanada, para editor Jurnal Online Postcolonial Text mencoba membahas ranah-ranah yang dianggap penting bagi perkembangan studi poskolonial. Termasuk di antaranya adalah mengenai status, nilai penting, serta masa depan studi poskolonial.

Masalah-masalah yang dihadapi disiplin ini ternyata mampu menghadirkan perasaan frustasi dalam perbincangannya. Rasa-rasanya mereka tak beranjak dari perdebatan mengenai pembedaan antara “materialis/diskursif” serta sirkularitas analisis wacana kolonial itu sendiri. Padahal, kalangan akademis baik dari dalam maupun dari luar kajian poskolonial telah berteriak mengenai kegagalan studi poskolonial untuk terlibat dalam penghayatan terhadap bentuk-bentuk kontemporer dari imperialisme dan kolonialisme. Pun, studi poskolonial terkesan luput dalam solidaritas dan perjuangan global dalam menghadapi bentuk-bentuk tercanggih neoimperialisme tersebut. Kecurigaan bahwa kajian poskolonial sebenarnya merupakan satu bentuk yang digunakan oleh wacana dominan untuk menaklukkan dan meminggirkan suara-suara ‘yang lain’ kembali mencuat ke permukaan.

Menghadapi kritikan-kritikan yang diterimanya, studi poskolonial mencoba mencari suatu formula alternatif untuk menghindari kebuntuan. Harus ada konseptualisasi ulang dan renegosiasi mengenai asumsi-asumsi dasar dan prosedur-prosedur yang digunakan. Diharapkan pendekatan-pendekatan poskolonial dapat lebih berperan dan terlibat dalam perjuangan menghadapi struktur penindasan maupun kekerasan. Dalam hal inilah politik poskolonialitas menjadi penting untuk dipertimbangkan. Tetap saja, di tengah berbagai pro dan kontra yang melingkupinya, studi poskolonial memiliki posisi strategis sebagai senjata untuk menyampaikan suara-suara kaum yang terpinggirkan masyarakat negara poskolonial yang dilihat dari jumlahnya merupakan penghuni mayoritas di dunia ini. Keraguan yang senantiasa meliputi teori poskolonial dari segi keilmuan sudah selayaknya tidak menjadi isu utama.

Akhir kata, menurut hemat saya, suatu disiplin tidak cukup hanya menjadi sebuah olahraga pikiran, namun perlu mempertimbangkan nafas-nafas semangat perjuangan. Suatu studi atau kajian tidak akan bisa bertahan tanpa nilai-nilai etik tempat kita berpaling, kepedulian/kepekaan sosial yang tinggi, serta sikap politik yang jelas.

16 thoughts on “kuldesak studi poskolonial

  1. aduh maaf deh … ga usah dibaca aja :-P yang ini maksudku juga cuman buat para pencari di gugel (kalo ada yang butuh tentang ini) … hihihi

  2. Nadya, gw baru tahu ada tulisan ini pas ngeliat category cloud. I like this, btw :)

    untuk komentar seriusnya, sebentar.
    *cough* *cough* *intellectual cough*

    Iya, ya? Sesudah Fanon yang berhasil menangkap zeitgeist(?) ‘nafas-nafas perjuangan’ Algeria atau si Said (Edward) yang aktif di politk Timur Tengah… Sesudah membuat politik jadi sadar identitas, sadar diri kalau elit dari Barat sering terlalu jumawa dengan posisi mereka… studi pasca-kolonial cuma berkembang di menara gading.

    (ah, masih ada teori kritis!)

  3. berawal dari wacana post kolonial tentu akan berimplikasi pada tindakan praksis bagaimana menyikapi universalisasi peradaban Barat yang kadang memaksa pribumi tercerabut dari akar budaya dan tradisi …

  4. hii.. tulisan yg menarik. kebetulan saya juga sedang blajar memhami teori poskolonial. saya juga ada ulasan tentang studio poskolonial. “dari kolonialisme hingga ruang display- kajian poskolonial pada museum sonobudoyo pasca hilangnya 72 koleksi topeng emas” thanks yah…

Have your say!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s