Menelanjangi Alih Teknologi

Kalau kita bicara mengenai alih teknologi, maka sesungguhnya kita bicara mengenai importasi teknologi dari negara-negara industri, dalam hal ini negara-negara Barat. Kita tidak mengimpor teknologi dari Papua New Guinea, Bangladesh, Sudan, atau Tanzania. (Todung Mulya Lubis, ‘Alih Teknologi: Antara Harapan dan Kenyataan’, dalam Prisma no. 4, April 1987)

Apa jadinya dunia tanpa teknologi? Dalam kehidupan manusia modern, sejak bangun tidur sampai tidur lagi ia tak bisa lepas dari teknologi. Manusia yang ‘melek’ teknologi mendapat kehormatan lebih dalam pergaulan dengan masyarakat. Demikian pula dalam konteks negara. Negara yang menguasai teknologi maju dirasakan memiliki gengsi lebih tinggi dalam pergaulan internasional. Tak heran bila kemudian negara-negara seolah berlomba untuk menjadi yang terdepan dalam penguasaan teknologi. Bagi negara-negara dunia ketiga, ini sama artinya dengan beralih bentuk menjadi negara industri.

Teknologi Modern dan Dominasi
Menurut Denis Goulet dalam bukunya ‘The Uncertain Promise: Value Conflicts in Technology Transfers‘, teknologi tidak hanya berupa alat-alat atau teknik-teknik produksi. Teknologi juga mewujud dalam proses dan person.

Teknologi didefinisikan sebagai aplikasi sistematis atas rasionalitas kolektif manusia untuk memecahkan masalah-masalah dengan cara mengusahakan kendali atas alam dan atas segala macam proses manusia.

Goulet melanjutkan, teknologi memiliki peran penting antara lain karena: teknologi adalah sumber dan pencipta sumber daya baru, teknologi adalah instrumen yang kuat untuk menciptakan kontrol sosial, teknologi mempengaruhi pengambilan keputusan untuk mencapai kehidupan yang berkualitas, dan teknologi membentuk makna-makna baru sebagai lawan dari alienasi-yang merupakan antitesis dari kehidupan yang bermakna (meaningful life).

Walaupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki sejarah yang panjang, yang disebut sebagai ilmu pengetahuan dan teknologi modern adalah yang bersumber dari masa Pencerahan Barat. Terjadi penolakan untuk mengakui sumbangsih semua ilmu pengetahuan dan teknologi pra-Pencerahan yang bukan berasal dari Barat, secanggih dan sepenting apapun ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut. Itulah mengapa menguasai teknologi harus berarti mengimpor teknologi dari Barat.

Dalam era pembangunan dan modernisasi, Negara Dunia Ketiga memiliki hasrat besar untuk menguasai teknologi, selayaknya yang terjadi di negara-negara maju. Teknologi sering disamakan dengan teknik-teknik produksi atau alat-alat semata. Diasumsikan bahwa jika teknologi tersebut berhasil dalam negara tempat teknologi tersebut diciptakan dan dikembangkan, maka teknologi tersebut akan berhasil pula di daerah lain manapun.

Asumsi tersebut tidak dapat dibenarkan, sebab teknologi tidak berfungsi dalam sebuah ‘vacuum social‘. Ia amat bergantung pada kondisi sosial, infrastruktur baik fisik maupun tenaga kerja, serta ketersediaan bahan baku. Menyederhanakan alih teknologi menjadi sekadar alih alat-alat dan teknik-teknik produksi sama halnya mengharapkan hal-hal tersebut cukup mujarab untuk menyelesaikan segala permasalahan. Tentu saja pandangan ini berlebihan dan mengada-ada, bahkan menyesatkan sebab kenyataan di lapangan membuktikan sebaliknya.

Dilema Alih Teknologi
Perkara alih teknologi sama sekali bukan hal yang sederhana. Dalam Prisma no. 4, April 1987, Todung Mulya Lubis menyatakan beberapa dilema alih teknologi yang dihadapi oleh Negara Dunia Ketiga, antara lain:

Dilema pertama, teknologi itu bukan sesuatu yang murah. Dilema terletak pada sejauh mana Negara Dunia Ketiga bersedia membayar harga teknologi yang cukup mahal itu. Sejauh mana Negara Dunia Ketiga memprioritaskannya di tengah kebutuhan lain yang mendesak dipenuhi. Parahnya, penentuan harga jual hampir mutlak terletak pada tangan pemilik teknologi. Pembeli hanya diberi pilihan membeli atau tidak sama sekali. Teknologi seringkali dijual secara paket, di mana paket tersebut dengan segala perekatnya (tie-in) secara sepihak sering sengaja dimahalkan. Untuk industri tinggi, pembelian teknologi secara terpisah (partial) hampir mustahil.

Dilema kedua adalah pada satu pihak Negara Dunia Ketiga ingin memelihara dan mempertahankan kemerdekaan, tetapi di pihak lain, dengan alih teknologi ini bukan mustahil negara akan melepaskan sebagian kemerdekaan tersebut. Sangat besar kemungkinan, teknologi yang dimasukkan tersebut menimbulkan ketergantungan teknologi (technological dependency). Hal ini tidak sehat bagi perekonomian Negara Dunia Ketiga. Negara Dunia Ketiga sekadar menjadi sandera dari pemasaran teknologi asing. Negara-negara maju dan perusahaan multinasional akan menjadikan kekayaan negara berkembang sebagai sasaran pemasaran teknologinya.

Dilema ketiga adalah apabila ketergantungan teknologi ini sudah semakin tinggi, maka kreativitas masyarakat dan anak sekolah akan merosot. Kemalasan untuk bersusah payah pun muncul.

Akibat yang paling jelek adalah berkurangnya lapangan pekerjaan sehingga terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) dan meningkatkan angka pengangguran dan kemiskinan. Inilah wajah tidak manusiawi dari alih teknologi.

Selain dilema-dilema yang dihadapi sebagaimana yang tercantum di atas, dalam alih teknologi itu sendiri sebenarnya mengandung pertentangan nilai yang tak terelakkan, seperti yang ditunjukkan oleh Denis Goulet (1977) berikut:

Teknologi dianggap sebagai pedang bermata dua, sebagai pengembang sekaligus penghancur nilai-nilai. Dalam hal ini, alih teknologi dari Barat tentu saja membawa serta nilai-nilai dan pandangan hidup barat.

  • Nilai pertama adalah rasionalitas. Dalam sudut pandang teknologi Barat, yang dimaksud rasional adalah melihat segala permasalahan dapat dipecah-pecah menjadi bagian-bagian, disusun kembali, dimanipulasi melalui cara-cara praktis, dan diukur dampak-dampaknya. Padahal, nilai-nilai tradisional Negara Dunia Ketiga banyak memasukkan aspek-aspek yang tidak mungkin dijawab melalui rasionalitas Barat semacam itu, dan nilai-nilai tradisional tersebut telah melekat dalam kehidupan masyarakat Negara Dunia Ketiga dan dipegang sebagai sebuah kepercayaan.
  • Nilai kedua adalah efisiensi. Efisiensi memiliki keterkaitan erat dengan konsep dari industri yaitu produktivitas. Naik turunnya efisiensi dapat diukur melalui tingkat produktivitas. Produktivitas menilai segala sesuatu dari hasil atau output, dibandingkan dengan input yang diperlukan untuk menghasilkannya. Produktivitas dihitung dari seberapa banyak produk bila dibandingkan dengan investasi yang dikeluarkan untuk tenaga kerja, modal, mesin, dan waktu.
  • Nilai ketiga adalah mengutamakan pemecahan masalah secara teknis tanpa memperhatikan aspek alam atau manusiawi. Inginnya segala sesuatu dapat diselesaikan, sehingga tidak memberi waktu terhadap kontemplasi dan harmonisasi dengan alam. Juga mengembangkan perilaku acuh, pasif, dan penolakan terhadap masalah-masalah yang dihadapi.
  • Nilai keempat adalah menganggap kekuatan alam sebagai objek yang harus dipergunakan untuk sebesar-besar kepentingan manusia. Padahal sebagian besar nilai-nilai tradisional sangat mengutamakan hubungan yang harmonis dengan alam untuk menghindari dampak buruk yang dapat ditimbulkan.

Demikianlah terjadi berbagai pertentangan nilai dalam alih teknologi, tetapi tetap saja Negara Dunia Ketiga menutup mata dan bersikukuh untuk melakukan alih teknologi.

Jenis-jenis Alih Teknologi
Alih teknologi sering secara sembrono diartikan sebagai proses untuk menjadikan Negara Dunia Berkembang ikut menguasai teknologi sebagaimana yang terjadi pada negara maju. Tetapi, sesungguhnya bagaimanakah cara teknologi tersebut dialihkan?

Yang dimaksud dengan alih teknologi sebenarnya tak lain dan tak bukan adalah transaksi ekonomi untuk kepentingan dagang.

Ini terlihat dari jenis-jenis dan cara-cara alih teknologi. Korporasi transnasional menjadi aktor kunci dalam proses ini. Anthony I. Akubue “Technology Transfer: A Third World Perspective” menjelaskan jenis-jenis alih teknologi. Yang sering terjadi antara lain:

Foreign Direct Investment, yaitu investasi jangka panjang yang ditanamkan oleh perusahaan asing. Investor memegang kendali atas pengelolaan aset dan produksi. Untuk menarik minat investor asing, Negara Dunia Ketiga menjalankan berbagai kebijakan seperti liberalisasi, privatisasi, menjaga stabilitas politik, dan meminimalkan campur tangan pemerintah. Padahal, kepemilikan asing atas modal sama saja dengan membentangkan jalan lebar menuju keuntungan dan pelayanan bagi korporasi transnasional. Mereka mengeksploitasi banyak keuntungan dengan resiko yang ditanggung oleh Negara Dunia Ketiga. Bayangan mengenai terjadinya alih teknologi dan pengembangan teknologi pribumi dirasakan sebagai impian yang terlalu muluk.

Joint Ventures, yaitu kerjasama (partnership) antara perusahaan yang berasal dari negara yang berbeda dengan tujuan mendapat keuntungan. Dalam model seperti ini, kepemilikan diperhitungkan berdasarkan saham yang dimiliki. Jenis alih teknologi ini menjadi menarik sebab perusahaan-perusahaan asing dapat menghindari terjadinya nasionalisasi atas perusahaan. Perlu diketahui bahwa dalam model FDI (Foreign Direct Investment) resiko terjadinya nasionalisasi secara tiba-tiba adalah cukup tinggi. Selain itu investor asing juga merasa riskan bila harus melakukan joint ventures dengan perusahaan nasional Negara Dunia Ketiga.

Licensing Agreements, yaitu izin dari sebuah perusahaan kepada perusahaan-perusahaan lain untuk menggunakan nama dagangnya (brand name), merek, teknologi, paten, hak cipta, atau keahlian-keahlian lainnya. Pemegang lisensi harus beroperasi di bawah kondisi dan ketentuan tertentu, termasuk dalam hal pembayaran upah dan royalti. Biasanya cara ini digunakan oleh perusahaan asing dengan mitra Negara Dunia Ketiga. Cara ini adalah yang paling memungkinkan terjadinya alih pembayaran atau larinya modal dari Negara Dunia Ketiga kepada perusahaan-perusahaan asing.

Turnkey Projects, yaitu membangun infrastruktur dan konstruksi yang diperlukan perusahaan asing untuk menyelenggarakan proses produksi di Negara Dunia Ketiga. Bila segala fasilitas telah siap dioperasikan, perusahaan asing menyerahkan ‘kunci’ kepada perusahaan domestik atau organisasi lainnya. Perusahaan asing juga menyelenggarakan pelatihan pekerja dalam negeri agar suatu saat dapat mengambil alih segenap proses produksi yang dibutuhkan. Kecil kemungkinan terjadi alih teknologi sebab perusahaan domestik hanya bisa mengoperasikan tanpa mengerti kepentingan pengembangan teknologi tersebut. Perusahaan domestik juga tidak bisa membangunnya, sehingga peran mereka sekadar menjadi budak suruhan.

Mengingat watak dasar perusahaan (termasuk korporasi transnasional) yang mengutamakan pencarian laba sebagai motif kepentingannya, cita-cita pembebasan kemanusiaan melalui teknologi menjadi kepentingan nomor sekian.

Adakah Alih Teknologi?
Kenyataan semacam itu tentu membuyarkan mimpi Negara Dunia Ketiga mengenai proses yang disebut sebagai ‘alih teknologi’. Dalam tulisan yang sama di Prisma, Todung Mulya Lubis merasa perlu mempertanyakan ulang, benarkah alih teknologi sedang terjadi? Jika jawabannya adalah tidak, maka apakah yang sesungguhnya sedang terjadi? Argumen yang mendasari pertanyaan tersebut antara lain adalah:

  • Pertama, belum adanya UU Paten yang mengatur apakah teknologi yang masuk setelah jangka waktu tertentu akan menjadi milik umum (public domain).
  • Kedua, berbagai kontrak yang dibuat PT PMA atau PT PMDN dengan perusahaan-perusahaan asing mengenai teknologi tersebut tidak menjamin terjadinya alih teknologi. Pengetahuan mengenai berbagai kontrak itu sangat miskin, tidak tahu apa saja isi kontrak-kontrak tersebut karena tidak ada kewajiban untuk mengumumkan isi kontrak itu kepada pemerintah, apalagi kepada umum.
  • Ketiga, kalaupun ada UU Paten dan kontrak-kontrak alih teknologi, hanya dijadikan sarana untuk masuk ke pasaran domestik. Pengusaha asing dengan berbagai upayanya mempertahankan patennya melalui berbagai modifikasi sehingga paten tersebut tidak jatuh menjadi public domain. Ada keengganan besar pada pemilik paten asing ini untuk mengalihkan teknologinya.
  • Keempat, mekanisme kontrol terhadap alih teknologi relatif lemah. Dan,
  • Kelima, mitra bisnis yang sepadan di dalam negeri belum cukup tersedia.

Lalu, bila alih teknologi disangsikan telah terjadi, maka proses apakah sebenarnya yang tengah berlangsung dan digembar-gemborkan selama ini?

Teknologi yang Imperialistik
Istilah alih teknologi itu sendiri terbukti tidak bisa dipertanggungjawabkan. Goulet (1975) menyatakan demikian, sebab biasanya teknologi bukannya di’alih’kan, melainkan diperdagangkan (jual-beli) secara luas dalam pasar internasional. Oleh sebab itu banyak ahli yang memilih untuk menggunakan istilah komersialisasi teknologi.

Yang sebenarnya terjadi menurut V. Matthew Kurian adalah sebagai berikut:

Modern technology – in multiple ways – is instrumental in subordinating the Third World to the First World and in bleeding out their economic surplus to the imperialistic center.
(Kurian, 1996, “Technology as a Tool of Imperial Domination and Exploitation: A Study on Third World with Special Reference to India”, dalam Indian Church History Review no. 30, tahun 1996).

Aktor utama penjajahan modern adalah korporasi transnasional.

Perkembangan teknologi modern akibat Revolusi Industri kapitalis di Barat telah membunuh teknologi yang telah berkembang sedemikian lama di Negara Dunia Ketiga. Alih teknologi menciptakan selera Barat di Negara Dunia Ketiga. Untuk mewujudkan kepentingan kapitalis imperialis, mereka melabeli pandangan hidup yang berbeda dengan mereka sebagai tidak modern, bahkan tidak beradab. Mereka mendekonstruksi nilai-nilai tradisional dan mempengaruhi secara mental agar Negara Dunia Ketiga mau menerima hegemoni pandangan hidup Barat. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern berperan besar dalam hal ini. Kemudian ini memberi keuntungan bagi mereka dan menciptakan ketergantungan pihak Dunia Ketiga kepada mereka.

Teknologi modern yang dikembangkan sekarang cenderung bias pandangan hidup teknokratis yang materialis, linear, dan kuantitatif, sehingga tidak mampu menghargai nilai-nilai hidup yang nonmaterial.

Sebuah contoh dapat dikemukakan di sini. Teknologi modern bertanggung jawab terhadap terjadinya kelaparan massal di Negara-negara Dunia Ketiga. Revolusi Industri di Eropa membutuhkan banyak bahan-bahan mentah, sehingga dicarilah akal untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Muncullah penjajahan.

Di bawah penjajahan, negara-negara terjajah terpaksa mengalihkan jenis tanaman mereka, dari menanam tanaman pangan menjadi menanam tanaman perdagangan untuk dijual. Hal ini menciptakan ketergantungan dalam dua cara. Yang pertama, negara jajahan kehilangan basis pangan (food base). Yang kedua, mereka dipaksa menggantungkan diri pada penjajah untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. Sebab, untuk menjual tanaman perdagangan yang mereka tanam di bawah paksaan tersebut, mereka tidak punya pilihan selain menjual kepada tuan penjajah mereka. Itu adalah salah satu contoh latar belakang yang menunjukkan bahwa kepentingan kapital di balik pengembangan teknologi membutuhkan terjadinya dominasi dan homogenisasi.

Contoh kasus lain yang terjadi di India adalah tergesernya keahlian kerajinan ukir tradisional akibat pendudukan penjajah. Negara ini diubah menjadi penyedia bahan baku sekaligus pasar bagi Inggris Raya. Karena barang kerajinan jauh lebih baik dan bermutu daripada barang buatan pabrik, demikian pula lebih tinggi ongkos membuat dan memperolehnya, maka orang India terpaksa membeli produk impor dari penjajah. Ini semakin mengokohkan posisi penjajah dan dengan kekerasan mereka menghabisi pengetahuan dan keahlian lokal India. Bahkan mereka memotong tangan para pengrajin ukir di India.

Oleh karena itu, peran ilmu pengetahuan dan teknologi modern sebagai sarana vital penjajahan sudah tak terelakkan lagi. Demikian pula dalam proses alih teknologi. Dan…inilah kenyataan yang harus kita pahami, sebagai konsekuensi atas keberanian kita menelanjangi alih teknologi.

daun di atas bantal

2002hakim04

“Taik kucing dengan segala aturan yang kau buat!”

Potret muram kehidupan jalanan a la Kancil, Heru, dan Sugeng dalam film semi-dokumenter ‘Daun di Atas Bantal’ selayaknya menjadi tamparan telak bagi sesiapa yang merasa tertampar. Kepada merekalah sang kehidupan tidak perlu merasa malu menampilkan wajah terkejamnya secara telanjang. Saling pukul, saling maki, mencuri, ngelem (menghirup lem Aica Aibon yang memabukkan), makan melalui lubang, mengintip perempuan ganti baju, onani sambil menyaksikan film biru dari belakang layar, mencuci muka dengan air pel stasiun, seolah telah menjadi kawan akrab mereka. Seakrab peniti-peniti yang menghiasi bibir Heru.

Tidak perlu heran. Tidak perlu mengernyitkan dahi sedemikian rupa. Siapa saja boleh menilai hidup semacam itu adalah tidak wajar. Toh, wajar tidak wajar adalah penilaian yang pilih kasih. Dan, menilai, pada dasarnya adalah membandingkan.

Kepada mereka, paling tidak ada dua penilaian umum yang muncul dengan segera dari masyarakat di luar komunitas jalanan. Yang pertama adalah iba. Yang kedua adalah rasa terganggu atau terusik. Atau, campuran kedua unsur tersebut. Ada pula yang biasa aja, tidak berkomentar apa-apa, alias cuek bebek saja.

Munculnya penilaian tersebut dapat diibaratkan “cermin”. Dengan memaksakan standar diri untuk menilai sesuatu di luar dirinya, memperlihatkan seperti apa diri sang penilai itu sendiri.

Rasa iba timbul karena masyarakat terbiasa dengan suatu standar kenyamanan yang lebih tinggi. Paling tidak, orang tidak perlu berebut bantal bekas kursi sobek untuk alas tidurnya. Rasa iba seakan ingin menegaskan bahwa masyarakat yang merasa iba itu memiliki derajat yang lebih tinggi daripada anak jalanan yang dijatuhi iba. Rasa iba yang terdengar mulia itu terjebak menjadi kesombongan borjuis yang merendahkan.

Di sisi lain, masyarakat akan melihat sisi ‘rusak’ mereka. Masyarakat yang terbiasa dengan aturan boleh saja menilai mereka tidak tahu aturan. Masyarakat boleh protes atau mengeluh mengenai sikap mereka yang melempari kaca sebuah tempat penukaran uang, makan tanpa bayar, mengganjal roda bianglala di pasar malam (membahayakan penumpang), tidak pernah mandi atau mengganti pakaian, dan segala hal serba ‘sembarangan’ lainnya.

Namun, aturan-aturan tersebut milik siapa? Apakah anak jalanan merasa ikut memiliki aturan-aturan tersebut? Apakah mereka ikut bersepakat bahwa aturan-aturan tersebut adalah ‘demi kepentingan mereka sendiri’ juga?

Ketika aturan-aturan yang ada sengaja meniadakan mereka, apakah berarti mereka tidak boleh ikut bermasyarakat? Ketika aturan-aturan tidak aspiratif bagi kepentingan mereka – bahkan secara kasat mata mematikan atau membunuh mereka – bagaimana mungkin mereka mematuhinya? Dalam hal ini, dapatkah masyarakat bilang bahwa mereka anarkis? Ataukah justru yang membuat aturan itulah yang anarkis?

Arief Budiman mempunyai ilustrasi yang menarik:

Ketika kekuasaan kehilangan keabsahannya, ia sama saja dengan kawanan penjahat yang memaksa anggotanya untuk mengikuti kehendaknya dengan ancaman kekerasan.

Meskipun pada dasarnya sama-sama melanggar aturan, namun dengan dalih bahwa kekuasaannya absah, sang penguasa tentu berkelit dari tuduhan anarkis, melanggar aturan, entah dengan alasan “harus”, atau “demi kepentingan bersama”, alasan apa saja bisalah dibuat ….

Padahal, keabsahan itu sendiri datangnya dari mana? Bila keabsahan itu datangnya dari rakyat, maka sesungguhnya masyarakatlah yang berhak menilai anarkis tidaknya sesuatu, termasuk bila yang anarkis itu adalah sang pengemban ‘kekuasaan yang sah’ itu sendiri. Namun, ternyata, kekuasaan ‘sah’ itulah yang menjadi penentu.

Berkaitan dengan pembicaraan mengenai aturan-aturan dan keabsahan, nama Sokrates patut disimak. Dalam satu perkataannya, Sokrates pernah berkata bahwa ia adalah seekor lalat pengganggu. Maksudnya, lalat pengganggu bagi yang berkuasa. Selayaknya pengganggu, bagi sang penguasa, orang-orang seperti dia dirasa sepantasnya disingkirkan. Selayaknya lalat, orang-orang seperti dia memang tidak berkuasa.

Mungkin perumpamaan tersebut sesuai pula untuk anak jalanan. Fenomena anak jalanan menjadi kenyataan yang cukup mengganggu bagi pemimpin dan penguasa, karena masyarakat yang solider menuntut kewajiban sang penguasa. Sampai kapan masyarakat akan menerima keberadaan anak-anak di jalanan dan diam-diam mengutuk diri karena yang bisa dilakukan hanya memberi sekeping dua keping rupiah, entah ke mana perginya dan entah seperti apa nasib mereka dan entah kapan ada perubahan dalam hal ini :-(

Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara, demikian kata UUD ’45.

Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum… begitu bunyi Pembukaan (Preambule) UUD 45.

Anak jalanan hanya boleh mendengar tapi tidak boleh ikut menikmati. Indah perkataan tanpa realisasi. Secara teoritis, untuk menuntut perlakuan/perlindungan yang lebih baik, anak jalanan dan orang-orang yang peduli perlu mengorganisasikan diri. Tidak bisa hanya dengan seruan moral. Tapi, yang berlaku adalah hukum rimba, cengkeraman sedemikian berlapis, yang menyebabkan begitu sulitnya sebuah “perjuangan bersama” kaum jalanan.

pillow1

Terowongan kereta api itu menjadi saksi kematian Kancil ….

Selanjutnya, Heru dan Sugeng menyusul. Keduanya dibunuh. Heru dibunuh oleh mafia asuransi yang memanfaatkan status anak jalanan yang tidak memiliki identitas resmi semacam KTP. Sugeng menjadi korban perseteruan geng atau kelompok preman. Bahkan, sekadar mengubur mayat Sugeng saja susah bukan main, karena pemakaman-pemakaman menolak menyediakan tempat bagi orang yang tidak jelas identitasnya.

Binatang saja dikubur….

demikian lolongan Asih, ibu asuh ketiga anak jalanan tersebut. Masa‘ manusia tidak? Kalau begini, siapa yang tidak manusiawi?

Tiga kejadian yang merenggut nyawa Kancil, Heru, dan Sugeng begitu saja – seolah nyawa mereka tidak ada harganya – menunjukkan betapa miris posisi mereka dalam bangunan struktur sosial.

Dalam struktur yang menindas selalu ada korban. Kali ini, si Lalat Pengganggu tentu saja kalah oleh sang Raksasa Penindas.

Pernikahan Kartini

Kami pulang ke Jogja membawa setandan pisang, oleh-oleh langsung dari kebun. Sekali lagi, Irung Petruk atau lajur jalan di Gunung Kidul yang penuh kelok dan naik turun akan kami tempuh. Udara sejuk dan hijau sawah menyegarkan pandangan, mengingatkan kami pada kebaya hijau limau Kartini dan perona matanya yang berwarna senada.

***

Gempa Yogyakarta tiga tahun lalu. Kami salah satu “armada” KKY atau Komite Kemanusiaan Yogyakarta yang ditugaskan ke Gunung Kidul. Bantul sudah banyak diperhatikan, sebagai korban terparah. Sementara Gunung Kidul tidak terlalu terlintas di benak banyak orang. Daerah berupa perbukitan cadas membuat korbannya tak sebanyak Bantul. Namun, tak terpikirkan bahwa lumpuhnya Bantul menyebabkan pasokan pangan bagi masyarakat Gunung Kidul terputus, sehingga selama berminggu-minggu mereka hanya makan daun ketela, tiwul, dan sambal yang diolah dari kebun masing-masing.

Kami baru saja hendak beranjak dari rumah seorang Pak RT di Gunung Kidul yang berkali-kali berterima kasih, ketika satu perempuan muda mengejar-ngejar mobil kijang kami, tak mau melepaskan. Sambil sedikit menggedor kendaraan, ia menggugat, kenapa yang dikunjungi hanya rumah Pak RT saja, rumahnya tidak. Pemimpin rombongan merangkap supir mengatakan, semua sumbangan sudah ditaruh di rumah Pak RT, tak ada sisa. Jika ingin ambil bagian, silakan hubungi Pak RT saja.

Ternyata, bukan itu yang ia mau. Ia ingin kami berkunjung, menikmati makanan khas Gunung Kidul sambil minum teh hangat. “Mampir tempatku dulu,” katanya. “Tidak ada salahnya,” pikir kami. Toh, kami tidak sedang terburu-buru, dan sang supir sepertinya perlu beristirahat sedikit lebih lama akibat medan perjalanan yang menantang.

Sampai di rumahnya, satu keluarga besar berkumpul. Dari kakek buyut sampai cucu-cucu yang masih bayi. Mereka semua ramah. Aku bertanya, “lho, orang tuamu koq kecil-kecil semua, ini bongsor dari mana?” Ia tertawa, “Dari kecil aku udah besar sendiri.” Ia bungsu kelahiran 21 April 1988, tanggal kelahiran “Ibu Kita” Kartini. Dari situlah ia mendapatkan namanya.

Semua anggota keluarga saut-sautan bercerita. Cerita yang sampai detik ini masih kuingat adalah dari kakek Kartini yang sekarang sudah meninggal. Dengan suara tak terlalu jelas, berbahasa jawa pula, mulut ompongnya tergelak-gelak menuturkan kembali peristiwa yang ia alami di hari gempa. Ia seorang kakek yang sudah tak bisa berjalan. Kakinya hanya bisa tertekuk, jadi ia selalu dalam posisi berjongkok. Semua orang keluar dari rumah, ke sawah lapang. Ia digendong, lalu diletakkan di sawah. Saat orang-orang membuat tenda seadanya, hujan turun. Meski demikian, orang-orang masih terlalu takut untuk kembali ke rumah. Mereka bertahan di tenda itu. Tanpa terasa sang kakek yang tak bisa ke mana-mana itu berkubang dalam air sawah … plus air hujan yang menggenang di sawah membuat ia terendam nyaris tenggelam, kaku tak ada yang bisa memangku. “Gimana ya nak, saya ini sudah ndak bisa gimana-gimana,” ia tak memelas, justru terkekeh-kekeh. Benar-benar tabah.

***

Dari kunjungan itu, kami bisa berhubungan sampai sekarang. Kartini pakai kartu As, Telkomsel satu-satunya yang ada sinyal di sana. Lama-kelamaan, tanpa terasa sudah waktunya bagi Kartini untuk menikah. Ia dilamar oleh tetangga pujaan hatinya, Supriyanto. Beberapa waktu sebelum menikah, kadang kala ia berbagi kisah.

Dulu, saat ia masih kecil, sudah pernah ada yang melamarnya, tapi ia enggan. Pertama, karena ia merasa masih kecil, meski pernikahan “di bawah umur” biasa terjadi di desanya. Kedua, karena tak ada rasa suka terhadap orang yang melamarnya itu.

Kali ini lain. Ia telah mengenal dan berpacaran dengan Supriyanto selama beberapa tahun. Ia sering menceritakan betapa mereka tak pernah berani saling menatap satu sama lain saat sedang berbincang. Seperti itulah gaya berpacaran mereka. Mereka akan saling membuang muka, melihat ke arah sebaliknya bukan ke lawan bicara. Sehingga, orang yang melihat malah akan mengira mereka sedang marahan. “Lha gimana ya? Aku tu ndak berani ….” selalu begitu jawabnya jika aku meledeknya.

Pernah pula ia memberi kabar, ingin menunda pernikahannya, sebisa mungkin sehabis lebaran atau tahun 2009 saja sekalian. Pokoknya menikmati masa muda dulu. “Menikah itu ndak gampang, banyak urusannya,” wow, Kartini tegas sekali. Lagipula ia akan kangen dengan mbok-nya. Setelah menikah ia akan bingung mau ngapain dan bosan, tiap hari hanya bertani sendirian karena Supriyanto ke kota menjadi buruh bangunan. Dia juga bingung, dia berusaha menabung tapi selalu saja ada keperluan. Duitnya terpakai bahkan habis, tapi masih cukup. Kira-kira seperti itulah kalimat-kalimat yang bisa aku tangkap. Tapi, tetap, sebenarnya aku menangkap nada-nada bersemangat dan excited-nya akan rencana pernikahan ini. Aku terharu dan terinspirasi mendengar bahwa ia semakin sering mengaji dan berpuasa. Betapa yakin dan intimnya ia dengan Tuhannya. Tak seperti orang-orang yang merasa “lebih tau” tentang apa saja ….

***

Pikiranku kembali ke masa-masa jauh sebelumnya, saat aku bertanya kenapa ia tak ambil Paket C saja. Ia kan sudah lulus SMP, setelah lulus paket C ia bisa ambil pendidikan keguruan kalau sudah bosan bertani. Tenaga guru masih sangat dibutuhkan di desanya, lagipula sebagai guru ia akan dihormati. Saat itu, ia seperti menyambut ide tersebut dengan cukup bersemangat. Ya, tapi tak ada realisasinya sih, hehe :-P

Aku selalu merasa dunia ini tak adil kalau teringat perkataannya bahwa pilihannya hanya tiga: bertani, jadi buruh pabrik, atau jadi pembantu rumah tangga. Secara fisik dan finansial, semua itu bukan pilihan yang menyenangkan, terus terang saja. Menurut kalian apa yang membedakan aku dengan dia? Kami sama-sama manusia. Aku bisa saja ada di posisinya dia, terlahir di Gunung Kidul sebagai dia … lalu kenapa hidupku harus dibatasi dalam tiga pilihan saja.

Aku tidak bicara soal mana yang lebih baik, “nasibku” atau “nasibnya”. Orang bisa saja bilang, bersekolah di zaman sekarang semakin mirip dengan berlaga di medan tempur. Hmm, yah, saat bersekolah dulu, aku tidak berurusan dengan tawuran, bullying ataupun narkoba. Juga, sama sekali tidak ikut les atau bimbingan belajar seperti anak-anak lain yang sepulang sekolah masih ada beban les, tidak bisa beristirahat atau main. Orang bisa bilang bahwa seorang Kartini, di pelosok Gunung Kidul, terselamatkan dari hal-hal mengerikan macam itu. Menurutku bukan di situ permasalahannya. Aku tidak bicara soal mana yang lebih baik, tapi, aku merasa bahwa semua orang berhak mendapat kesempatan yang terbaik dalam kehidupannya. Entah siapa yang peduli dan akan bertindak dalam persoalan ini ….

***

23 Februari 2009, hari pernikahan Kartini. Kami menunggu, mendengarkan sambutan dalam bahasa jawa. Jalan setapak itu telah disulap menjadi tempat duduk tamu pengantin. Kartini dan suaminya berada di dalam ruangan rumah, sementara kami di luar, dihibur penyanyi berpakaian jawa dan orgen tunggal/”electone”. Hm, seperti yang tertulis di surat undangan nih, “Hiburan: electone”. Dan, aku baru tahu dari surat undangan tersebut bahwa ternyata nama Kartini itu Sukartini ….

Sebelum menyanyi, grup yang terdiri dari dua penyanyi perempuan, dua penyanyi laki-laki, dan seorang pemain orgen itu bertukar lawakan, meski dalam hal ini penyanyi laki-laki yang lebih aktif. Sesekali tamu undangan diajak berduet.

Duh denok gandulane ati, tegane nyulayani …
Janjimu sehidup semati amung ono ing lathi
Rasa sayangmu sudah pergi, tak menghiraukan aku lagi
Duh denok gandulane ati, tegane nyulayani ….

Duh kangmas jane aku tresno, lilakno aku lungo …
Ati ra kuat nandang rasa, rasa ketonto ronto
Cintamu sudah gak beneran, aku cuma buat mainan
Duh kangmas jane aku tresno, lilakno aku lungo

Tresno iki, dudu mung dolanan
Kabeh mau amargo kahanan
Sing takjaluk, amung kesabaran

Mugi Allah, paring kasembadan

dst …

Lagu yang kuingat hanya ini, karena ada campuran bahasa Indonesianya :-P Lagian rada lucu-lucu mengenaskan, yah menghibur beneran dech hahaha :lol:

Selanjutnya, acara hiburan diisi oleh tamu yang dari tadi disebut-sebut namanya. Ternyata beliau seorang caleg DPRD II Gunung Kidul. Sebelum bernyanyi, beliau bertanya pada tim yang sedari tadi menyanyi, “bagaimana pembiayaan kelompok ini? bla bla bla.” Kemudian, ia menyerahkan amplop berisi uang Rp 50.000,oo untuk kesejahteraan mereka sembari woro-woro. Tak lupa ia mengingatkan tim penyanyi itu untuk bilang tentang dirinya saat pentas, “… kalau cocok.” Suami sang caleg itu menambahkan Rp 50.000,oo lagi, sehingga kami semua tahu total sumbangan mereka. Barulah caleg tersebut mulai menyanyi. Meski berbahasa jawa, ternyata lagu itu berisi kalimat-kalimat kampanye partainya. Tapi penampilan sang caleg lumayan juga koq, tidak norak pamer perhiasan.

Sambil menunggu makan siang, kami keluar berjalan-jalan di sawah, di kandang ternak, di sumur, di pohon beringin …. Hwuaaahhhh, top markotop.

Saat kembali, kami duduk depan sendiri. Pengantin keluar dijemput domas. Begitu keluar, Kartini melihatku di depan sendiri, langsung nyengir lebar, demikian juga aku. Aku sampai melotot sambil menyalami saat dia lewat, “hwuaahh, cantik banget kamu!” Saat dijemput domas pengantin memakai baju Jogja berwarna hitam. Saat kembali ke pelaminan, diantar domas, pengantin sudah berganti baju hijau limau segar … sesegar raut muka Kartini. Ia benar-benar bahagia! Aku juga ikut bahagia banget sampai dadaku terasa sesak mau menangis ….

Selamat berbahagia, Kartini. Love u love u love u! *mmmuuach*

telepon seluler

Aku tidak merasa sedih meninggalkan dunia ini. Mereka bukan milikku. Dan aku bukan milik mereka. Kami membutuhkan secara fungsional saja. (Hudan Hidayat dalam cerpen ‘Bunuh Diri: untuk sutardji calzoum bachri’).

Seorang teman yang baru pulang dari Norwegia datang membawa cerita. Di sana, pemakaian telepon seluler sangat jarang dijumpai di ruang publik. Benda yang satu itu bahkan diperlakukan nyaris seperti rokok: terdapat tanda-tanda yang menyatakan “mobile phones prohibited” (“telepon seluler dilarang”) dan ada ruang-ruang khusus tempat pemakaian telepon seluler diperbolehkan. Sebelum menggunakan telepon seluler, meminta izin kepada teman yang sedang barengan merupakan harga mati. Itu asas sopan santun yang berlaku umum dan ditaati bersama.

Ketika ditanya mengapa, seorang warga menjawab dampak telepon seluler bersifat polutif. Masyarakat sebagai pihak yang tidak berurusan dan tidak ada sangkut pautnya dengan kegiatan personal tersebut tidak ingin ruang publiknya tercemar oleh suara-suara dan ekspresi-ekspresi yang tidak dikehendaki. Sebagai perbandingan, dikatakannya,”seperti halnya masyarakat menolak menjadi perokok pasif.” Lagipula, sebagai bangsa dalam negara yang hidupnya relatif teratur, telepon seluler tidak terlalu diperlukan. Semua agenda sudah tercatat, keinginan bercakap-cakap dapat ditentukan lewat perjanjian sebelumnya, sehingga, mereka bisa bertemu dan ngobrol secara langsung, seperlunya. Telepon seluler hanya berdering jika ada hal-hal yang sangat mendadak dan penting, dan hal-hal semacam itu jarang terjadi. “Kami kan warga sipil, bukan polisi”, demikian ia mengakhiri penjelasannya.

Hal yang berbeda ditemukan di Indonesia. Wow, betapa telepon seluler terlihat sudah memasyarakat, terutama di kota-kota. Perilaku-perilaku yang melibatkan telepon seluler menjadi pemandangan yang biasa. Tidak ada keraguan sedikitpun untuk menggunakan telepon seluler di ruang publik, kecuali mungkin dalam tempat ibadat.

Sebagai ilustrasi, mari menengok satu rumah kos di Yogyakarta. Semua penghuni mengawali harinya dengan gerakan yang sama dan serentak: mengecek telepon seluler. Entah mematikan alarm, melihat jam, mengharap ada sms atau missed call yang masuk, atau sekedar karena tubuh mereka sudah terotomatisasi dengan gerakan tersebut. Sepanjang hari, kecuali saat sedang bersembahyang atau berada di kamar mandi, telepon seluler selalu ada dekat jangkauan, tak mau meninggalkannya lama-lama, seolah dalam status ‘siaga’, harus selalu siap untuk menerima kabar berita apapun, kapanpun, di manapun, dari siapapun, dan tanpa itu ada sesuatu yang dirasa kurang. Tak heran, terkadang masalah-masalah yang berkaitan dengan telepon seluler membuat mereka uring-uringan. Sampai-sampai, perlu berhutang untuk membeli pulsa, bahkan memproklamirkan, “aku tidak bisa hidup tanpa pulsa”: sebuah pernyataan yang menimbulkan pertanyaan, apakah ini dikarenakan kultur masyarakat Indonesia yang sangat gemar bersosialisasi (anehnya dengan keberadaan telepon seluler terkadang teman-teman di sekelilingnya seperti sedang dicuekin, dianggap tak ada), ataukah ini sebentuk tindakan konsumtif yang inefisien?

Sebagaimana perangkat teknologi lainnya, keberadaan telepon seluler memiliki wajah ganda: membebaskan, sekaligus membatasi. Sosial, sekaligus alienatif. Dengan iming-iming keleluasaan mobilitas, sekaligus, kemudahan berinteraksi, telepon seluler menjelma sebagai kebutuhan massal dalam lingkup kehidupan modern – saat ruang dan waktu menjadi faktor vital dalam aktivitas sehari-hari. Fungsi telepon seluler tak sekedar sebagai alat komunikasi, melainkan dapat pula ditangkap sebagai simbol status dan gengsi sang pemilik, bahkan sampai pada taraf kemelekatan tak terpisahkan dalam kehidupan personal sehingga mengakibatkan keterlibatan secara emosional. Penggunaan telepon seluler yang semakin marak telah menimbulkan perubahan dalam relasi sosial maupun ritual kultural, juga berpengaruh terhadap perilaku dan persepsi individual.

Langsung tidak langsung, telepon seluler menjadikan penggunanya sebagai ‘diri virtual’ walaupun dampak telepon seluler betul-betul dirasakan dalam kehidupan sang pengguna. Sebagaimana yang dikemukakan Agger:

The virtual self is connected to the world by information technologies that invade not only the home and office but the psyche. This can either trap or liberate people… By virtual self, I am referring to the person connected to the world and to others through electronic means such as the Internet, television and cell phones… [These] technologies get inside our heads, position our bodies and dictate our everyday lives. (Agger 2004:1, dikutip dari http://www.fastcapitalism.org)

Selain dimensi virtualitas, telepon seluler juga mengandung dimensi anonimitas. Hal ini dimungkinkan karena ‘diri’ kemanusiaan direpresentasikan melalui simbol ‘nomor telepon’ berupa figur angka-angka yang berderet. Nomor tersebut dapat diubah-ubah sehingga tidak dikenali, terkadang sukar terlacak, bahkan terkadang ada telepon seluler yang memiliki fasilitas hide id sehingga nomor penelepon tidak bisa diketahui.

‘Identitas’ menjadi sangat cair tak bisa dipegang, dapat diubah-ubah ataupun dipalsukan tanpa harus mempertanggungjawabkan apa-apa. Keadaan hampir ‘tanpa resiko’ ini dapat mendorong terjadinya ‘eksperimentasi’ dalam representasi ‘diri’, salah satu contohnya adalah dalam hal ‘pengekspresian diri’. Ambil misal, seseorang yang dalam interaksi tatap muka sehari-hari bersifat sangat pasif dan pendiam, ternyata ketika berhubungan melalui telepon seluler (entah telepon maupun sms) berubah menjadi penyampai pesan yang aktif, bahkan mengumbar ungkapan-ungkapan yang berbunga-bunga. Demikian pula sebaliknya, seseorang yang melalui telepon seluler terkesan sangat ‘dingin’ dan hambar karena penyampaian pesan yang singkat dan padat, ternyata dijumpai sebagai orang yang sangat cerewet, ekspresif, dan ramah. Sulit untuk menerka yang manakah ‘diri-nya yang sesungguhnya’, karena bisa jadi individu-individu tersebut sedang melakukan apa yang tadi disebut ‘eksperimentasi’ terhadap bagaimana diri mereka ingin ‘tampil’/ ‘ditampilkan’.

Dalam argumen kepraktisan, hubungan yang terjadi pun bersifat impersonal, meski imajinasi yang terbangun bisa melayang mengembara entah ke mana. Di balik proses sosialisasi, terjadi proses individualisasi, bahkan alienasi. Terkadang seseorang menjadi terasing dalam relasi tatap muka sehari-harinya karena sibuk berinteraksi melalui telepon seluler. Tanpa perlu saling mengenal pribadi/kepribadian masing-masing, individu-individu semakin dimudahkan untuk berhubungan sebatas hal-hal fungsional, dengan kata lain sesuai kebutuhan saja.

Daftar nomor telepon yang memenuhi phonebook menunjukkan jaringan-jaringan yang membuat mereka saling terhubung. Jaringan (network) itu jualah yang memperluas pergaulan individu-individu menembus sekat-sekat jarak. Hubungan yang tadinya tidak dimungkinkan sebelum adanya teknologi, menjadi mungkin. Tak jarang pula relasi-relasi personal yang melibatkan keterikatan emosional mewujud melaluinya. Entah bisa dibilang ‘nyata’ sesuai pengertian ‘konvensional’ atau tidak. Di sinilah, realitas kembali menunjukkan segi-segi ‘simulasi’-nya. Dengan kata lain, realitaskah atau simulasikah, untuk membedakannya tak semudah membedakan siang dan malam di negara tropis.

Tak dapat dihindari, bagi sebagian orang, telepon seluler menjadi bagian dari identitasnya, tak terpisahkan, sebab telepon seluler juga mengandung makna simbolik yang menyatakan ‘siapa Anda’ dalam strata sosial dan ‘seberapa besar tingkat keberdayaan Anda secara ekonomi’. Yang patut disayangkan adalah apabila, sebagai bagian dari ‘identitas’, perangkat tersebut mengakibatkan kecanduan atau ketergantungan bagi penggunanya.

“There has been growing evidence of an increased dependency on mobiles—not just in practical terms, but in an emotional sense.” (Michael Hulme cited in “Downtime” by Mark Lewis in Computer Weekly, May 20, 2003 http://www.computerweekly.com/ )

Hal tersebut tidak sehat, apalagi jika benda sampai menjadi sebuah kemelekatan seolah-olah menjadi organ tubuh baru yang dicangkokkan dan manusia tidak bisa hidup tanpanya.

Disadari atau tidak, selain berfungsi sebagai alat komunikasi, telepon seluler juga menjadi alat kontrol untuk senantiasa mengetahui keberadaan pengguna. Tak jarang, pengguna justru merasa terpenjara oleh telepon seluler tersebut, tidak bisa menghindar dari segala panggilan, tak ada waktu luang, kehilangan privasi dan waktu beristirahat. Dalam usahanya menjadi subjek yang leluasa mengontrol relasi sosial, ternyata di sisi lain manusia juga harus siap menjadi objek yang dikontrol. Dalam imajinasinya untuk membuka peluang-peluang baru pergaulan ataupun ‘networking‘ demi memperluas perolehan order pekerjaan untuk mengebulkan asap dapur, ada tanggung jawab merawat perangkat itu sendiri dan segenap kebutuhannya, juga merawat interaksi-interaksi yang telah terwujudkan gara-gara perangkat itu.

Entah mengapa, tiba-tiba dalam hal ini, saya membayangkan manusia-manusia masa kini yang dengan sengaja dan sukarela mendaftarkan dirinya sebagai nomer-nomer berderet, berbondong-bondong tanpa perlu dipaksa, tak seperti zaman Auschwitz. Entah apa yang menggerakkan itu semua ….

rindu kepada Bung Hatta

Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas…jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkapal do’a
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu…

“Hatta”, Iwan Fals

Berbicara mengenai Bung Hatta adalah membicarakan seorang pemimpin yang dirindukan bangsa Indonesia. Saat ini, negara sedang dirundung masalah namun karakter pemimpin-pemimpin bangsa yang seharusnya berjuang keras menyelesaikan masalah justru enggan melepaskan diri dari jerat korupsi, sehingga sulit rasanya untuk tidak merindukan sosok Bung Hatta yang jujur, sederhana, dan antikorupsi. Beliau selalu mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan diri sendiri. Beliau tidak pernah memanfaatkan kedudukannya untuk mengeruk kekayaan pribadi. Beliau tidak silau oleh gemerlap harta dan tidak takut untuk hidup secukupnya saja.

Sejak muda, sifat-sifat tersebut sudah tampak. Bung Hatta memilih untuk berjuang menggapai kemerdekaan dengan resiko hidup miskin, dipenjara, bahkan diasingkan ke daerah-daerah terpencil daripada bekerja untuk penjajah dengan gaji yang besar.

Contoh lain keteladanan beliau dapat disimak pada peristiwa pemotongan nilai uang dari Rp 2,50 menjadi Rp 1,00 di tahun 1950-an yang lebih dikenal sebagai peristiwa “Gunting Syafruddin”. Sebagai Wakil Presiden, sebenarnya bisa saja Bung Hatta membocorkan kebijakan tersebut terlebih dahulu kepada keluarganya sehingga dampak buruk yang akan mereka terima dapat diantisipasi. Namun, demi kepentingan bangsa, hal itu tidak dilakukannya, sehingga tabungan yang telah dikumpulkan sejak lama menjadi tidak cukup lagi untuk membeli mesin jahit idaman istrinya.

Selain itu, ketika Bung Hatta telah mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden, uang pensiun yang diterimanya sangat kecil, bahkan sama dengan gaji Pak Dali, supirnya yang digaji pemerintah. Sampai-sampai, suatu saat Bung Hatta kaget melihat tagihan listrik, gas, air dan telepon yang harus dibayarnya karena mencekik leher. Menghadapi keadaan ini beliau tidak putus asa. Beliau semakin rajin menulis untuk menambah penghasilannya. Di usia senja, Bung Hatta dikirim oleh pemerintah untuk berobat ke Swedia. Menurut penuturan dokter Mahar Mardjono yang mendampinginya, sebelum pulang ke Jakarta, Bung Hatta segera memerintahkan sekretarisnya, Pak Wangsa Widjaja, untuk mengembalikan uang sisa pengobatan kepada pemerintah.

Setelah membaca sebagian kecil keteladanan Bung Hatta di atas, siapapun pantas berbangga hati dan mengacungkan dua jempol terhadap kejujuran dan kesederhanaan Bung Hatta. Kepribadiannya yang mengagumkan sulit dicari tandingannya. Apalagi di masa sekarang, korupsi merajalela, bahkan kisah nyata Bung Hatta di atas terdengar bagai dongeng belaka. Nasib bangsa carut-marut. Tanpa ragu pemimpin-pemimpin bangsa melupakan kepentingan nasional demi memenuhi pundi-pundi duniawi masing-masing. Keteladanan yang baik rupanya telah diabaikan oleh mereka, padahal merekalah yang diharapkan dapat membentuk karakter bangsa.

Bila Bung Hatta masih hidup, tentu beliau akan merasa sedih sekali melihat wajah bangsa yang telah diperjuangkannya tanpa mengenal lelah sejak usia belia. Kesedihan yang sama dirasakan pula oleh rakyat Indonesia yang kehilangan figur pahlawan. Pada awal kemerdekaan Indonesia, anak-anak kecil pun dengan mantap mengidolakan tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti Bung Hatta, Bung Sjahrir, ataupun Bung Karno. Namun, anak-anak zaman sekarang, sebagian besar mengenal Bung Karno dan Bung Hatta hanya sebatas peran mereka sebagai proklamator serta Presiden dan Wakil Presiden pertama Indonesia. Ironisnya, generasi tunas harapan bangsa ini lebih senang mengidentifikasi diri dengan tokoh-tokoh khayalan Naruto, Avatar atau Doraemon. Jelaslah krisis kepahlawanan ini membutuhkan jawaban. Masalah korupsi yang merupakan sumber utama kehancuran bangsa takkan dapat diberantas tanpa teladan.

Untuk menumbuhkan teladan-teladan seperti Bung Hatta, diperlukan jawaban atas pertanyaan ini: bagaimana bisa Bung Hatta memiliki kepribadian yang demikian jujur, sederhana dan antikorupsi?

Pertama, ketaatan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Hal inilah yang merupakan faktor utama pembentuk pribadi yang jujur, sederhana dan antikorupsi. Tuhan memerintahkan kepada manusia untuk berbuat jujur dan manusia yang taat kepada Tuhan akan senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Bung Hatta terkenal sangat religius dan terbukti bahwa ketaatannya terhadap Tuhan mampu menjadi benteng dalam setiap tindak-tanduknya. Sebagai contoh, beliau tidak pernah meninggalkan solat wajib. Walaupun beliau sakit, beliau tetap berusaha menjalankan solat Jum’at berjama’ah di masjid, dan walaupun beliau sedang dalam perjalanan jauh, beliau tetap melaksanakan ibadah puasa, padahal dalam ajaran Islam, orang yang sedang dalam perjalanan jauh dapat mengganti puasanya di hari lain.

Kedua, rasa cinta terhadap tanah air dan bangsa. Patriot sejati tidak akan rela mengorbankan kepentingan bangsa yang dicintainya. Demikian pula Bung Hatta. Justru beliau merasa bahagia bila mampu berkorban demi kepentingan bangsa dan negara. Seorang teman Bung Hatta, Soerowo Abdoelmanap, pernah menyatakan bahwa bila berbincang dengan beliau, Bung Hatta selalu membicarakan masalah bangsa. “Bangsa dan bangsa saja yang ada dalam pikirannya,” ujar Soerowo.

Ketiga, kecintaan kepada kebenaran. Untuk menguak kebenaran, kejujuran merupakan syarat yang mutlak dipenuhi. Bung Hatta membuktikan rasa cintanya terhadap kebenaran dengan cara menggelorakan sikap haus ilmu. Dalam pidatonya di Universitas Indonesia tahun 1957, Bung Hatta berkata, “Pangkal segala pendidikan karakter ialah cinta akan kebenaran dan berani mengatakan salah dalam menghadapi suatu yang tidak benar.” Kegairahannya terhadap ilmu ditunjukkan dengan kegemarannya membaca buku. Jangan lupa, sejak semula beliau termasuk orang yang mengutamakan pendidikan. Hal ini terlihat dari partai yang didirikannya, PNI-Baru, yang merupakan partai kader yang rajin menyelenggarakan pendidikan untuk rakyat.

Keempat, sikap menghargai orang lain. Dengan menghargai orang lain, seseorang dapat menghayati bilamana ia berada dalam posisi orang tersebut sehingga ia dapat menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang merugikan orang lain. Bung Hatta adalah orang yang tahu menghargai orang lain, bahkan terhadap orang kecil yang sering diremehkan. Orang-orang yang bekerja pada Bung Hatta seperti pembantu, sopir, pengawal, dan perawat perpustakaan merasa dihargai sedemikian tinggi oleh Bung Hatta sehingga mereka setia bekerja bertahun-tahun pada keluarga Bung Hatta. Mereka sayang pada Bung Hatta dan demikian pula sebaliknya.

Kelima, kedisiplinan dan ketaatan terhadap peraturan. Orang yang menaati peraturan akan berbuat jujur dan tidak melakukan korupsi, sebab korupsi adalah kejahatan dan melanggar peraturan. Sejak kecil, Bung Hatta taat pada peraturan. Sebagai contoh, ketika ia dihukum berdiri oleh neneknya, datanglah pamannya yang mengatakan bahwa hukuman telah usai. Namun, Bung Hatta tetap berdiri di situ sambil mengatakan bahwa yang menghukumnya adalah neneknya, sehingga hanya neneknyalah yang dapat memutuskan kapan hukuman tersebut usai. Dalam hal kedisiplinan, Bung Hatta punya keistimewaan. Beliau adalah seorang yang tersohor dengan julukan “manusia jam” yang sangat menghargai waktu. Beliau tidak menyukai keterlambatan barang semenitpun. Kedisiplinan terus bertahan sampai lanjut usia, Bung Hatta sangat disiplin dalam memenuhi perintah dokter yang merawatnya.

Kiranya, lima hal di ataslah yang dapat menggembleng pribadi seseorang menjadi seperti Bung Hatta yang jujur, sederhana dan antikorupsi. Tanpa bermaksud merendahkan para pemimpin bangsa yang sekarang, sepertinya kerinduan akan munculnya pahlawan-pahlawan bangsa lebih tertuju pada generasi muda tunas harapan bangsa. Generasi mudalah yang masih relatif bersih dan masih dapat dididik menuju kebaikan. Generasi mudalah yang diharapkan mampu melakukan perbaikan ketika mereka melanjutkan kepemimpinan bangsa ini kelak. Kuncinya ada pada kita semua, maukah kita meneladani Bung Hatta ? Sesungguhnya, bangsa Indonesia sangat merindukan pribadi seperti Bung Hatta.

Burung-burung Manyar

burung-burung manyar

Judul: Burung-Burung Manyar
Pengarang: Y. B. Mangunwijaya
Penerbit: Djambatan
Cetakan: II, 1981
Halaman: vi+261

Jujur saja, kali pertama membaca roman ‘Burung-burung Manyar’ di bangku SMU, aku tidak terkesan. Entah apa penyebabnya. Mungkin saat itu aku tidak membaca dengan sungguh-sungguh. Mungkin juga, perasaanku masih terlalu tumpul untuk menghayatinya. Apalagi, pemikiranku masih terbatas sehingga akalku belum bisa bertualang. Sebagai remaja yang sedang mekar, yang kuingat hanya adegan-adegan ‘syur’-nya.

Ternyata keadaan berbalik saat aku membacanya untuk kedua kali. Bagian ‘Prawayang’ kujadikan acuan dasar dalam memahami roman ini. Nuansa pewayangan semakin terasa melalui judul-judul bab yang menggunakan makna tersirat, seperti ‘Cendrawasih Terpanah’, ‘Burung Kul Mendamba’, dan sebagainya. Di sebelah judul bab, tergambar lambang yang menunjukkan siapa yang sedang bercerita dalam bab itu: daun melambangkan Teto dan burung melambangkan Atik. Hal ini mengingatkanku pada budaya Jawa yang gemar menggunakan perlambang-perlambang. Selipan unsur-unsur budaya tradisional tersebut menjadi daya tarik tersendiri.

Penokohannya unik. Tidak ada yang bersifat hitam putih, semua tokoh berwarna abu-abu. Karakter-karakter seperti ini jauh dari kesan menjemukan dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ada dua tokoh utama yaitu Teto (Setadewa) dan Atik (Larasati). Mereka bersahabat sejak kecil, saling jatuh hati, namun perjalanan hidup meletakkan mereka secara berlawanan. Tokoh lain yang menyita perhatian adalah Jana, suami Atik yang memiliki kepribadian yang langka.

Semakin kubaca, semakin tertariklah aku. Gaya bahasa yang spontan dan lugas serta struktur kalimat yang kejawa-jawaan terasa akrab di telingaku. Gaya bahasa ini dapat dianggap sebagai kekurangan, dapat juga dianggap sebagai kelebihan. Menjadi kekurangan karena mungkin struktur seperti ini menimbulkan jarak dengan pembaca yang tidak terbiasa dengan bahasa Jawa. Di sisi lain, dengan gaya bahasa seperti ini, penuturan pengarang terasa lebih lancar dan hidup.

Menilik isinya, betapa kagum aku ketika tersadar betapa luas cakupannya, merentang dari sejarah sampai hakikat kehidupan. Walau belum kupahami sepenuhnya, ada beberapa perihal penting yang menarik diurai lebih lanjut.

L’histoire repete, sejarah berulang. Kisah-kisah sejarah masa lalu ternyata pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami pada masa sekarang. Bukankah masa sekarang adalah masa lalu bagi masa yang akan datang? Pemahaman ini membawa kita pada kesadaran sejarah, yaitu penghayatan mengenai peran manusia pada bergulirnya sejarah.

Perulangan sejarah tampak jelas antara lain mengenai kisah peran dunia internasional terhadap kebijakan suatu negara. Roman ini menyadarkan bahwa apa yang terjadi pada suatu negara tak bisa terputus dari kepentingan internasional. Kemerdekaan Indonesia menjadi salah satu contoh. Bukan hanya perjuangan dalam negeri, persaingan di dunia internasional pun ikut mempengaruhi tercapainya proklamasi. Dalam kehidupan berbangsa dewasa ini, kekuatan internasional masih bermain, bahkan dapat mengancam kedaulatan negara. Ambil contoh kebijakan ekonomi. Pemerintah Indonesia dipaksa berhadapan dengan rakyatnya sendiri melalui keputusan pencabutan subsidi, penjualan aset-aset negara, dan sebagainya.

Mencermati hakikat penjajahan, mental penjajah tergambar baik melalui tokoh Teto yang menyangsikan kemampuan bangsanya sendiri dan memilih berpihak pada Belanda. Terlepas dari alasan pribadi yang melatarbelakanginya, sikap seperti Teto inilah yang menghambat persatuan dan kemajuan bangsa. Sampai sekarang, mental-mental seperti ini masih terlihat. Percuma berkebangsaan Indonesia bila bermental penjajah.

Di balik sikap-sikap tersebut tentu ada berbagai latar belakang. Dalam roman ini, sikap Teto memihak Belanda -yang disesalinya- dilatarbelakangi oleh masalah pribadi. Menurut Atik, itulah kesalahan Teto, tidak bisa melepaskan masalah pribadi dari masalah negara. Tak perlu berpanjang lebar, sekarang ini sikap tersebut masih merajalela dan merusak bangsa ini. Apa lagi kalau bukan korupsi, kolusi dan nepotisme? Demi kekayaan pribadi, keuangan negara dihabisi. Amanat rakyat digeser pada peringkat dua. Yang nomor satu tentu saja kepentingan pribadi.

Yang patut dicatat adalah bahwa Teto mengalami kerugian akibat sikapnya itu. Kesulitan hidup yang dialami menempa jiwanya menjadi seorang ksatria. Ia menyesal dan pada akhirnya melakukan tindakan yang sangat berjasa bagi bangsa Indonesia, walaupun akibatnya ia dipecat dari pekerjaannya. Seringkali, pahlawan-pahlawan berserakan tanpa kita ketahui namanya. Bisa jadi ia adalah orang biasa yang tidak kita sangka sama sekali, seperti Teto. Pahlawan yang tak dikenal dan tanpa tanda jasa. Pertanyaannya: beranikah?

Menaksir jawaban pertanyaan tersebut, bolehlah kita beralih pada sisi filsafat roman ini. Romo Mangun berbicara mengenai jati diri dan citra diri. Jati diri ada di dalam diri dan citra diri adalah bahasa ke luar diri. Seringkali manusia terlalu sibuk berias untuk menampilkan citra diri tertentu sehingga melupakan jati dirinya. Itu menunjukkan bahwa manusia terkadang sangat memedulikan penilaian orang lain. Ia ingin dianggap, dihargai, dan diakui keberadaannya di antara manusia-manusia lain. Terbuai oleh bahasa citra diri, manusia mengabaikan bahasa jati diri. Menyemukan perasaannya terhadap diri sendiri. Mengesampingkan kenyamanan, perdamaian dan penerimaan diri.

Seorang pahlawan sejati melakukan kebaikan tanpa pusing dengan citra diri. Jati diri yang kuat menopangnya, sehingga ia mampu terus berjuang dengan atau tanpa penghargaan dari manusia lain. Inilah yang disebut dengan keseimbangan antara jati diri dengan citra diri. Ketika jati diri baik, orang itu akan merasakan citra dirinya juga baik. Sebaliknya, untuk mencapai perasaan bahwa citra dirinya baik, seseorang harus mempunyai jati diri yang baik. Kutipan berikut dapat menjelaskan lebih lanjut,

…jati diri kita sebenarnya mendambakan arti, makna, mengapa, dan demi apa kita saling bergandengan, namun juga berkreasi aktif dalam sendratari agung yang disebut kehidupan. (halaman 211).

Menjadi pahlawan yaitu memahami arti dan melakukan sesuatu untuk kehidupan.

Pelajaran mengenai jati diri dan citra diri dapat disarikan melalui tokoh-tokohnya. Teto disamakan dengan Kakrasana yang seta (bersifat putih) namun memihak Kurawa (pihak antagonis). Pada awalnya, ia bercitra diri sebagai pengkhianat di mata bangsa Indonesia. Beban kehidupan yang harus ditanggungnya sungguh berat. Jati dirinya tabah dan dewasa, mungkin karena pada usia muda ia harus betul-betul mandiri. Ayahnya tak diketahui kabarnya dan ibunya hilang ingatan. Rasa cinta kepada ibunya sangat besar, sehingga perlakuan Jepang terhadap ibunya membuncahkan amarah terhadap Jepang. Kebenciannya itu diperluas menjadi kebencian terhadap Indonesia juga, karena ia melihat bangsa Indonesia dan Jepang seolah bersatu melawan Belanda, negeri asal ibunya. Pada akhirnya ia berubah haluan. Ia memihak Indonesia dengan mengorbankan diri sendiri. Indonesia disadari sebagai pengejawantahan ibunya. Dari lubuk hati, ia tetap mencintai tanah airnya.

Atik, secara citra diri adalah pahlawan. Ia telah menjadi sekretaris Republik pada usia yang sangat muda. Kelebihan tokoh Atik adalah pada sifatnya yang prenjak dan kiprah, yaitu lincah, cerdas, dan bersemangat. Dalam jati dirinya terlihat ia masih kekanak-kanakan, manja, dan kenes. Mungkin karena ia adalah anak tunggal yang masih diasuh ibunya sampai dewasa. Ia belum menyadari arti cinta dan kepemimpinan sejati yang dicurahkan oleh Jana, suaminya. Ia kurang peka menangkap kekuatan dan kepahlawanan dalan diri Jana. Sebelum diberi pengertian oleh Teto, ia hanya melihat Jana dari sisi citra diri, tidak berusaha menyelami jati dirinya.

Tokoh yang langka adalah Jana. Citra dirinya di mata Atik kurang menyenangkan. Ia dianggap kurang gagah. Ia bukan orang yang suka menonjolkan diri. Hanya orang yang dianugerahi pengamatan batin yang tinggi yang mampu melihat kecemerlangan jati dirinya. Ia mampu mecintai secara mendalam dan tanpa pamrih, sampai-sampai serasa cintanya disia-siakan oleh Atik. Atik mengatakan bahwa Jana baik, tetapi lemah, Atiklah yang selalu memimpin. Menanggapi hal ini, kutipan kalimat Teto kepada Atik berikut cukup mengena,

…memimpin tidak selalu dengan komando. Kualitaslah yang memimpin dan kualitas sering menang tanpa kata… Ia memimpin seperti alam raya ini. Tanpa kata. Seperti karakter. Dengan pengertian…

Kesimpulan yang bisa dipetik antara lain, kedewasaan adalah ketika seseorang mampu hidup untuk orang lain, mengalahkan ego pribadinya. Hal yang menghindarkan Atik dengan Teto dari perbuatan zina adalah kelebatan anak-anak Atik dalam pikiran kedua orang itu. Semakin dewasa, manusia tidak bisa selalu menuruti keinginannya. Banyak hal yang harus dipertimbangkan dengan arif. Jati dirilah yang akan menyelaraskannya.

Satu hal yang sayang untuk dilewatkan adalah kisah percintaan antara Teto dengan Atik, juga Jana dengan Atik, dan cinta kasih antara Teto dengan Jana. Selain itu, keunggulan roman ini adalah pada penceritaannya yang menggunakan sudut pandang yang tidak biasa, yaitu melalui tuturan seorang yang semula antinasionalis. Dengan demikian roman ini menegaskan bahwa segala sesuatu bergantung pada perspektif atau sudut pandang. Pepatah mengatakan,

Batas antara pahlawan dengan pengkhianat sangatlah tipis.

Akhir kata, roman ini adalah roman sejarah dan filsafat yang bagus, layak dibaca, dan tak lekang dimakan waktu.

semut dan gajah

Selasa, 7 Desember 2004. Malam itu, Lembaga Mahasiswa Filsafat UGM menyelenggarakan diskusi di auditorium Lembaga Indonesia Perancis (LIP) yang terletak di Sagan, Yogyakarta. Hawa dingin dan cahaya remang-remang menemani perbincangan hangat bertemakan “Lokal Mengeja Global”. B. Herry-Priyono, seorang ilmuwan sosial terkemuka, dan Joko Siswanto, dosen mata kuliah ontologi dan kosmologi Fakultas Filsafat UGM, dihadirkan sebagai pembicara.

Berawal dari mengenang masa-masa bersekolah di London School of Economics (LSE), B. Herry-Priyono mengisahkan kerinduannya terhadap lemper. Hasratnya terhadap penganan yang terbuat dari beras itu membekas sampai beberapa hari, karena di London lemper tidak mudah didapatkan. Ketika di Yogyakarta, misalnya, ia tak pernah mengalami kerinduan yang sedemikian hebat hanya terhadap suatu makanan kecil. Keinginan mendalam terhadap hal yang berbau nasional atau lokal justru dirasakan setelah ia berada nun jauh di negeri orang.

Kemudian, dari sini ia mengambil rumusan, “Persis saat muncul hasrat untuk merentang, muncul pula hasrat untuk mengakar”. Maksudnya, persis saat kecenderungan yang terjadi adalah gejala-gejala pengglobalan, muncul kecenderungan untuk melirik dan menjaga sifat-sifat lokal. Memang menjadi paradoksal, namun bukan berarti irasional. Oleh karena itu, sudah selayaknyalah untuk mempertanyakan, membicarakan tema-tema global dari sudut pandang lokal. Kegelisahan sang ‘lokal’ semakin mengemuka seiring terjadinya hegemoni wacana global yang menggerus secara membabi buta.

Menurut B. Herry-Priyono, ada tiga penyikapan dari yang lokal terhadap yang global, yaitu fundamentalisme; politik identitas a la cultural studies; dan pelibatan warga lokal dalam proyek-proyek global.

Fundamentalisme mengandaikan adanya satu sistem mendasar yang harus diterapkan dalam kehidupan. Karena sifatnya yang mendasar itulah, fundamentalisme memiliki patokan-patokan baku yang tak terkompromikan. Bagi masing-masing fundamentalis, cacat-cacat dalam segenap sendi kehidupan bermasyarakat terjadi akibat pelanggaran terhadap sistem ‘ideal’ yang mereka percayai tersebut. Pemberlakuan sistem secara menyeluruh diyakini akan menyelesaikan banyak permasalahan, setidaknya membuat keadaan menjadi lebih baik.

Sayangnya, selama dunia masih berputar, tidak akan ada satu pun sistem baku yang bisa menyelesaikan segala persoalan. Selamanya, kehidupan bergerak dinamis dan senantiasa membutuhkan penyikapan-penyikapan yang dinamis pula. Selamanya, berbagai sistem dan ideologi akan saling berdialektika. Logika fundamentalisme tersebut seolah hendak membekukan waktu, karena sesungguhnya ketika dunia ini menjadi satu warna saja dan baik seluruhnya, seperti yang diangan-angankan, maka berarti kehidupan ini telah selesai.

Penyikapan kedua berasal dari perspektif cultural studies. Mereka menyebutnya ‘politik identitas’. Maksudnya, dalam menyikapi globalisasi, masing-masing identitas harus tetap dipertahankan. Biarkanlah segala identitas tetap menjadi dirinya sendiri, jangan dihomogenkan oleh yang namanya globalisasi atau apapun itu. Mereka mengandaikan, dalam ranah budaya, manusia bebas berdansa merayakan kemanusiaannya. Ranah budaya bagai bilik tempat manusia bisa bernafas dengan sedikit lebih lega dan terbebas dari ‘polusi’ politik dan kekuasaan.

Cara pikir demikian mengandung beberapa titik naif. Tidak ada yang terlepas dari politik dan kekuasaan, termasuk budaya. Bahkan ketika seseorang atau suatu masyarakat merasa alergi dengan politik kemudian memilih untuk bertekun dalam ranah “budaya ‘saja’ “, pilihan itu pun sebenarnya adalah sebuah sikap politis. Selain itu, bagi penguasa dalam cakrawala globalisasi, tidak ada lagi hal yang sakral atau keramat. Budaya, termasuk agama sekalipun, dimasuki dan dikomodifikasi sesuai kebutuhan untuk mencari keuntungan. Tanpa sadar, keinginan untuk ‘menaklukkan’ globalisasi melalui politik identitas justru menyeret ke dalam pusaran kapitalisme global yang susah dibendung. Yang lebih ironis lagi, politik identitas dipakai sebagai jurus adu domba termutakhir. Penuntutan terhadap hak-hak identitas – misalnya saja hak-hak kaum homoseksual, perempuan, pecinta hewan, kelompok etnis tertentu, kaum agama, dan sebagainya – masing-masing dijorokkan pada titik ekstrim dan diletakkan sedemikian rupa sehingga saling bertentangan. Semakin beraneka ragam identitas yang diperjuangkan, semakin senang para pengadu domba tersebut, karena dengan demikian akan semakin susah bagi pelawan-pelawan globalisasi untuk bersatu ke dalam sebuah aksi bersama (joint action).

Penyikapan yang ketiga adalah mengikutsertakan masyarakat lokal dalam upaya penyejahteraan warga global. Masyarakat lokal harus dilibatkan dalam proyek-proyek global. Masyarakat lokal harus mendapat bagian yang layak dan menuntut imbalan yang pantas. Menurut B. Herry-Priyono, penyikapan ketiga inilah yang paling ‘lumayan’ dibanding penyikapan-penyikapan lain. Di era globalisasi, tidak ada yang tidak butuh kesejahteraan. Ketimpangan politik, sosial, maupun ekonomi harus dikurangi. B. Herry-Priyono tidak menyebutkan kelemahan dari penyikapan nomor tiga ini. Entah karena waktu yang terbatas, atau memang ia sudah cukup puas. Seperti katanya, penyikapan ini sudah lebih dari cukup untuk saat ini. Namun, bagi saya, penyikapan ketiga ini adalah sebuah cara kooptasi terbaru … dari gajah pada semut-semut yang selama ini terinjak-injak ….

tulisan nadya remaja

hahaha … arsip, kutulis selepas sma …. :-)

***

What if we woke up one day and realize that our life was just a dream?

You were there, sweeping the floor, and I left you.
The second time I saw you at the same day, you were still there, still sweeping the same floor.

That’s why you impressed me. I felt your sensation. I’ve got you running in my mind, every single day. I’ve let my imagination wildly uncontrolled. I’ve wrote your name secretly in the sand and erased it afterwards. I closed my eyes and called you out loud in my sleep. I hide under my blanket and hold my pillow tight. I’ve been unreasonable every time I was near you. I cracked up jokes to see you smile, and that’s the time I felt a peaceful happiness inside my soul.

But then I looked at you, and myself. I was confused and yelled silently: why must this happened? There’s a shadow haunting me. I’m an evil. I truly am. I couldn’t continue this because I will hurt you whatever I do. I believe I will, because I’m destined to hurt people, and you’re not any exception. I know I will, even though I tried my best to be careful and avoid the worst. I will disappoint you. I will make you down. I’m not the one for a soft-hearted but tough-appearance person like you. You deserve someone better, not a useless stupid girl like me. Before it’s too late, I’m sorry, I think I must fade away.

Don’t ever think this is easy for me. I’m suffering inside, the same as you do. I feel the pain through your eyes. Where’s the warmness you usually have? You never called me from the window like you used to do. You never smile nor making my smile anymore. I can’t recognize the new you, the tense and easily-tempered you. I’m sick of you, the angry you. I’ve got tired fighting with you. That’s the only way we communicate lately. I shouldn’t respond you anyway.

I can’t imagine I considered you cheerful before. But, you were cheerful, and I miss those times. I miss your shy and secret stare to my ‘artistic’ hands (although you try to hide it, wel… actually I know but I let you^^). I miss the way you laugh. I miss your ‘accident’ small fingertip touch to my hand, that made something inside me beating fast, my stomach crumbled, I’ve never felt before (–why was it always about hand? are you obsessed with mine^^;?) I miss your spirit. I miss our times before. If only I could let you know. If only I could tell you, but I couldn’t. If only you knew without me telling you. If only I could erase your despair, but I couldn’t, or maybe, won’t. My heart broke seeing you sitting alone hopelessly and full of sorrow, but I couldn’t let myself do anything about it. It’s like we’re living in a different world. It’s better this way. At least, I’m the evil one, not you. This position, I can bear.

There’s a voice of the Beatles. John Lennon singing,”let me take you down cause I’m going to… strawberry fields, nothing is real, and nothing to get hungabout. Strawberry Fields Forever.

Everything are fake, including you and me.

Detektif Petualang

Perdebatan mengenai penelitian ilmiah selalu bersitegang bersamaan dengan perdebatan mengenai hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Singkat cerita, dapat dikatakan bahwa dua kubu yang bertikai adalah kubu yang beranggapan bahwa ilmu pengetahuan itu netral, berhadapan dengan kubu yang menganggap ilmu pengetahuan itu tak lepas dari kepentingan.

Mereka yang percaya bahwa ilmu pengetahuan itu netral mengandaikan idealita ‘kebenaran objektif’. Dengan demikian, tradisi penelitian ilmiah yang dibangun cenderung positivistik. Metodologi yang berakar pada tradisi Durkheimian dan Spencer (Darwinisme sosial) ini sempat menjadi arus utama dalam kancah penelitian sosial. Klaim yang ditawarkan adalah kemampuannya menghantarkan sebentuk ‘kepastian’. Penelitian sebagai sarana mencapai ‘kebenaran’, diusahakan untuk bersifat bebas nilai dan mengambil jarak dengan kenyataan. ‘Kenyataan’ dianggap sudah terwakili oleh data-data empirik yang dihitung secara matematis. ‘Fakta’ dirumuskan melalui kertas-kertas bersilang jawaban, tabel-tabel persentase, atau grafik-grafik yang dibilang ‘akurat’ dan ‘dapat dipercaya’ (reliable). Slogan yang merek dengung-dengungkan yaitu: “Biarkanlah data yang berbicara”.

Cara berpikir seperti itu telah mendapat tentangan dari kubu yang berpikir sebaliknya. Kubu ini mengatakan bahwa sejatinya tidak ada kebenaran objektif, apalagi bila fenomena sosial dianalisis menggunakan cara berpikir eksak atau yang dikenal dengan istilah ‘fisika sosial’. Kebenaran bersifat sangat khas dan subjektif, sesuai dengan pemaknaannya. Kebenaran, sesungguhnya ‘hanyalah’ sebentuk konsensus atau kesepakatan. Maka, kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran intersubjektif (telusuri pula fenomenologi Schultz atau verstehen-nya Weber).

Lebih jauh lagi, sementara pendapat meyakini bahwa yang namanya ‘kebenaran mutlak’ tidak akan mungkin dicapai melalui penelitian manusia. Dengan adanya proses falsifikasi a la Popper, hal itu senantiasa bersifat sementara dan selalu mengalami dialektika. Sehingga, yang lebih penting dalam sebuah penelitian adalah merumuskan pertanyaan. Kesimpulan-kesimpulan yang ditemukan melalui penelitian hanya penting untuk merumuskan pertanyaan selanjutnya. Dengan begitu, diharapkan ilmu pengetahuan dapat terus berkembang, tidak tertinggal dari perkembangan fenomena yang terjadi.

Selain itu, pandangan yang patut mendapat perhatian adalah kritik bahwa toh kebenaran ilmu pengetahuan tidak punya pengaruh penting terhadap kehidupan jika ia hanya berusaha ‘membaca’ kenyataan. Kalau boleh saya mengutip Marx, melalui buku “Kemiskinan Filsafat” ia mengatakan “filsafat/ ilmu pengetahuan hanya berpikir mengenai perubahan, namun tidak mengubah.” Ia menekankan pentingnya praxis, atau keterkaitan antara ilmu pengetahuan dengan aksi tindakan yang bisa memperbaiki keadaan. Antara ‘berpikir’ dan ‘berbuat’ harus menjadi satu kesatuan.

Berdasarkan berbagai pandangan di atas, metodologi (kerangka berpikir) yang digunakan dalam penelitian ilmiah terus berkembang. Metode (teknik) yang dipakai pun semakin beraneka ragam. Yang tak boleh terlupa, penelitian perlu memiliki sikap/keberpihakan yang jelas. Cara pandang manakah yang ia jadikan landasan? Apakah ia mencari kebenaran objektif atau kebenaran intersubjektif? Kemudian, apakah ia ingin merumuskan pertanyaan selanjutnya? Apakah ia ingin ber-praxis? Suatu penelitian akan semakin mudah menemukan bentuknya bila pertanyaan-pertanyaan tersebut telah dijawab. Secara sederhana rumus penelitian dapat digambarkan sebagai berikut:

—> Teliti= 2T= T+T= Tanya+Temu :)

Temuan bisa pula berupa pertanyaan baru, atau praktik yang terus berdinamika. Jadi, penelitian tidak punya beban untuk mencapai ‘kebenaran paling benar sepanjang masa di seluruh jagad raya’.

Penelitian tidak sepatutnya digambarkan sebagai suatu aktivitas yang menyiksa, sangar, dan menyeramkan. Justru, berbekal sedikit imajinasi, penelitian dapat diibaratkan sebagai aksi petualangan seorang detektif, lengkap dengan debar jantung yang tak terkendali, otak yang tak henti berpikir, perasaan yang terus-menerus penasaran, serta – terkadang – keringat yang berleleran.

Akhir kata: berani mencoba?

Penjara/Surga Tubuh

pembebasantubuhperempuanJudul: Pembebasan Tubuh Perempuan,
Gugatan Etis Simone de Beauvoire terhadap Budaya Patriarkat
Pengarang: Shirley Lie
Penerbit: Grasindo
Cetakan: I, 2005
Halaman: xvii + 102

Seberapa pentingkah makna tubuh dalam hidup manusia? Karena dianggap sebagai sesuatu yang telah ada dari sono-nya, terkadang manusia merasa tidak perlu lagi mempermasalahkan konsep ‘tubuh’. Berbeda dengan kaum filsuf, sebagai golongan manusia yang berusaha untuk menggali segala sesuatu secara radikal (radix: akar; dari akar-akarnya), ternyata konsep ‘tubuh’ bisa dikupas dari berbagai segi dan menimbulkan perbincangan yang tiada habisnya.

Bagi filsuf idealis seperti Plato, tubuh konkrit bukan hal yang penting. Justru, tubuh dianggap sebagai penghalang tercapainya kemurnian jiwa. Plato berkata bahwa tubuh adalah kubur bagi jiwa dan jiwa bagaikan terpenjara dalam tubuh (Bertens: 1989). Jika manusia terlalu memberi perhatian terhadap tubuh, maka hakikat keabadian hidup, yang terletak pada alam kejiwaan yang abstrak, akan sulit dicapai. Oleh karena itu, ia menganjurkan bentuk-bentuk askese dan mati raga.

Tidak demikian halnya dengan para filsuf eksistensialis seperti Sartre. Mereka berangkat dari realitas konkrit kehidupan manusia konkrit, bukan semata membahas ide-ide mengenai bagaimana manusia yang ideal (hal.7). Berbicara mengenai konteks realitas konkrit berarti berbicara tentang aspek sosial, ekonomi, budaya, dan politik yang menyelimuti peradaban manusia. Dalam hal ini, tubuh merupakan konsep penting karena melalui tubuhlah manusia mula-mula disebut ‘ada’. Dari tubuh, manusia mencerna dunia dan kehidupan dalam realitas konkrit.

Buku karya Shirley Lie yang diangkat dari tesis penulisnya ini memaparkan pemikiran salah seorang filsuf eksistensialis kiri yang sangat terkenal di kalangan feminis, yakni Simone de Beauvoir. Bagi de Beauvoir, konsep tubuh sangat penting untuk memahami penindasan yang terjadi dalam ketidaksetaraan gender. Sebab, melalui fungsi tubuhlah identitas gender diciptakan.

Mitos yang diciptakan oleh budaya patriarkat membuat banyak perempuan percaya bahwa dirinya tidak berdaya karena kelemahan tubuhnya. De Beauvoir menegaskan “Jika seseorang tidak memiliki keyakinan pada tubuhnya sendiri, dia akan segera kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. [Pemutlakan] kelemahan fisik perempuan ini meluas menjadi kerentanan perempuan secara umum; perempuan tidak punya keyakinan pada kekuatan yang tidak dialaminya sendiri dengan tubuhnya; perempuan tidak berani bereksplorasi, melakukan revolusi, mencipta; dia terkurung dalam sikap pasif dan tidak berdaya…dia hanya bisa menempati tempat yang sudah ditentukan masyarakat baginya. Baginya, segala sesuatu dalam hidupnya sudah ditentukan, sudah tetap, dan pasti.” (hal. 23).

Dikonstruksikan bahwa menjadi perempuan berarti menjadi makhluk yang berpusat pada fungsi tubuhnya, dalam hal ini rahim. Perempuan terutama dihargai karena perempuanlah satu-satunya yang bisa melahirkan kehidupan baru melalui fungsi reproduksi. Melalui fungsi tersebut, keberlangsungan eksistensi manusia dapat dipertahankan. Namun, melalui fungsi tersebut pula, perempuan dibelenggu dalam sebuah ‘kodrat’. Perempuan diakui ‘ada’ dan berguna dalam kehidupan sebatas sebagai penyedia rahim dan penjaga keberlanjutan keturunan. Ketiadaan fungsi rahim menjadikan seorang perempuan berkurang nilainya, bahkan tidak ‘dianggap’.

Peradaban mengajarkan perempuan sebuah kewajiban, yaitu mengabdi kepada orang lain. Pengabdian itu ia lakukan melalui fungsionalitas tubuhnya. Padahal, ketika tubuh tak lain sekadar merupakan instrumen alam, itulah penyangkalan paling kuat terhadap kemanusiaan manusia (Supelli, dalam ‘Kata Pengantar: Tubuh yang Menyangga Sejarah’, hal. xv). Kehadiran perempuan sebagai manusia, sebagai subjek hidup yang berkehendak dan berakal budi, digerus begitu saja. Perempuan tidak berhak untuk berpikir neko-neko dan turut campur dalam urusan yang ‘berat-berat’ karena tanggung jawab sebagai pengabdi pada orang lain sudah cukup memberatkan. Identitas perempuan tidak dianggap penting, kecuali yang dirujukkan pada hubungannya dengan laki-laki. Otonomi perempuan menjadi tidak layak untuk diperhitungkan. Oleh karena itu, adalah sebuah prestasi besar jika perempuan mampu mengetahui apa yang diinginkan oleh-nya dan mengaktualisasikan diri secara utuh dan apa adanya. Perempuan yang berhasil menyandang peran yang menunjukkan keberdayaannya disebut sebagai individu yang berani dan mandiri (independent woman).

Permasalahannya, perjuangan gender tidak bisa berhenti pada level individu. Menurut de Beauvoir, kaum perempuan sendiri bertanggung jawab terhadap penindasan yang dilakukan kepadanya. Melalui sikap diam dan pasrah, perempuan melanggengkan upaya peminggiran terhadap kaumnya. Tak heran, diskriminasi gender terus lestari. Sebenarnya, peran perempuan mempertahankan dominasi laki-laki menunjukkan gejala ketidakdewasaan. Perempuan takut memperoleh kebebasan sebagai hakikat manusia dewasa, dan berusaha menghindar dari tanggung jawab dan resiko yang menyertai kebebasan tersebut.

Solusi yang ditawarkan de Beauvoir adalah revolusi pada tingkat individu dan juga revolusi sosial. Revolusi sosial diilhami oleh cita-cita masa itu, yaitu terjadinya suatu revolusi bolshevik. Diyakini bahwa dengan lenyapnya penindasan kelas, maka ketidaksetaraan gender pun akan musnah dengan sendirinya. Sedangkan, revolusi individu mencakup cara berpikir, bertindak, berperan, yang saling menghargai dan lepas dari ketergantungan dengan pihak manapun.

Sebagai penutup, Shirley Lie menegaskan seruan de Beauvoire kepada kaum perempuan: hiduplah secara otentik! Tidak ada salahnya perempuan menunjukkan nilai dan cara hidup yang orisinal, sesuai dengan eksistensinya sebagai perempuan (hal. 92). Perempuan bisa memaknai tubuhnya sebagai belenggu, namun bisa juga sebaliknya: keistimewaan tubuh perempuan menjadikannya sebagai surga, menuju keotentikan dan pembebasan.

keterhubungan

dari kejauhan, sekumpulan anak muda itu terlihat seperti hendak bersama-sama menembak burung. lebih tepatnya, burung yang sedang rehat di sarang. tangan-tangan terlatih diarahkan miring, kira-kira 30 sampai 45 derajat dari kepala. lengan terjulur kaku ke atas dengan senjata kecil dalam genggaman, siap mengenai sasaran nun di entah sana. melongok jauh, jauh sekali pandangan mata saya mencoba menelusuri arah tembak mereka, mencari lihat seperti apa wujud sasaran bernasib sial tersebut. nihil. sepertinya mereka salah mengarahkan senjata, atau memang menyasar bidang kosong? entahlah. tapi perihal tak ada burung yang siap ditembak, maklum saja, kami sedang berada di dalam mal.

dalam sekejap, mereka berganti rupa. ekspresi ceria dan siap menghabisi sasaran tadi berubah menjadi tampang-tampang cemas, deg-degan, tak sabar, penuh rasa ingin tahu. ada juga sih, yang bermuka lempeng saja. senjata mereka dekatkan ke dada, seperti hendak memastikan apakah keadaannya baik-baik saja. menatap penuh fokus, mata mereka seperti berbicara dalam bahasa empati. setelah tiga detik, tampang cemas mereka beroleh jawaban. tertawa bahkan terlonjak girang, atau, mulut terlipat lesu dengan alis terangkat rata, seperti menyiratkan, "kali ini tak berhasil, tapi tak apalah, masih ada kesempatan lain." tak lupa bercanda tawa sesama mereka. setelah gejolak emosi singkat tersebut, mereka kembali memeragakan posisi semula. saya masih tak mengerti apa yang mereka lakukan.

rupanya tak hanya posisi tangan dan badan yang telah terlatih, setel-setelan muka dan pose pun telah mereka latih dengan tekun. barulah saya sadari, mereka sedang membidik diri sendiri. dan, sungguh keterlaluan tingkat keprimitifan saya yang tak akrab dengan ponsel berkamera. tangan harus diarahkan jauh-jauh dan miring di atas kepala, agar foto yang dihasilkan memuaskan selera dan memenuhi standar foto yang baik (bagi mereka). jepret, jepret, jepret, tiga detik kemudian hasil sudah bisa dilihat, sambil melemaskan otot sekitar mulut yang kaku oleh senyum (atau tawa) terlatih.

setiba di samping saya, terdengar oleh telinga saya bahwa sekumpulan anak muda itu janjian memasang foto-foto tersebut di facebook. satu dari mereka langsung menimpali, "di-retouch dulu…" yang lainnya segera menyahut, "iya iya, lo sih ga bawa mcboo". mungkin itu nama komputer portabel mereka, yang mahal sakjagad tapi memiliki fasilitas terkini untuk melakukan olah gambar. mungkin bagi orang-orang dengan tingkat melek teknologi setinggi mereka, kegaptekan saya sangat mudah terendus. karena, tentang retouch, saya hanya mengerti artinya. dalam hal ini, bayangkan, satu-satunya aplikasi olah gambar yang bisa saya gunakan adalah "paint", itu lho yang ada di "accessories". purba banget dan bagi saya susahhh bukan main.

setelah mereka berlalu, saya kehilangan alasan untuk bertahan di tempat semula. namun, karena pantat saya malas beranjak dari duduknya, saya biarkan pikiran saja yang mengembara. saya bertanya pada diri sendiri, mungkin bagi manusia ada yang lebih berpengaruh daripada dimensi rasa, yaitu dimensi keterhubungan. maksudnya, kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain, dan, tidak merasa sendirian di dunia ini. lagian, siapa sih yang mau terkucil? (ohookkk). motivasi melakukan sesuatu adalah agar bisa diterima orang lain, agar bisa nyaman menjadi bagian dari suatu kelompok. sehingga kelompok tersebut menjadi jaring pengaman sekaligus penjerat bagi individu-individu.

konsekuensi bila melanggar dimensi keterhubungan pun lebih riil daripada bila melanggar dimensi rasa. betapa sudah terbiasa orang-orang menipu bahkan mempermainkan perasaan pribadinya. selain itu, berbeda dengan dimensi rasa yang cenderung bisa disimpan sendiri (meski juga tak steril dari pengaruh dari luar diri), dalam dimensi keterhubungan lebih banyak yang terlibat, secara sadar. saya percaya (tanya kenapaa?) seindividualis-individualisnya seseorang, jika ia berada di mayoritas daerah di indonesia, tingkat komunalitas itu cukup tinggi dan ada semacam tuntutan bahkan kerelaan otomatis untuk saling terhubung dan "menyesuaikan diri dengan lingkungan".

cara manusia terhubung satu sama lain semakin bervariasi, tentunya jika anda berada dalam situasi yang memungkinkan anda bersentuhan dengan variasi-variasi tersebut. bagi sekumpulan anak muda tadi, jalan dengan teman, berfoto bersama, serta menerakan interaksi-interaksi melalui facebook, seolah bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan sudah menjadi ritual. sesendiri-sendirinya seorang anak rantau yang malas keluar dari kamar kosnya, bisa jadi masih bisa terhubung dengan teman-teman melalui facebook, deelel. berdaya secara ekonomi, bertegur sapa setiap hari. tak apalah, yang penting hati senang, dan ada pencapaian baru lagi di hari ini.

Read and post comments |
Send to a friend

menghilangnya telenovela …

… dari saluran tv indonesia

benarkah kecurigaan saya kali ini?

***

tadi saya sibuk sempat memencet-mencet remote tv, sampai menimbulkan pertanyaan dari seseorang, “lu suka nonton sinetron ya?”. secara asal, saya menjawab,  “engga, suka film india.”

entah mengapa, menonton tv sejak dulu jarang menjadi kegiatan yang bisa saya nikmati. mengapa? karena terlalu banyak iklan-lah, samasekali tak ada acara yang menarik lah, capek-lah (bayangkan, hanya duduk dan mengonsumsi imej saja bisa bikin capek! tentu karena dilakukan dengan terpaksa …), terutama, berisik. terus terang saya sering tidak pede dengan keanehan saya ini. “betapa tidak tolerannya saya,” pikir saya dalam hati, “bersabar terhadap televisi saja tak sanggup!” oh, betapa terasingnya saya.

padahal, banyak orang mahfum bahwa televisi adalah media yang sangat memasyarakat, terutama di indonesia ini, paling tidak jika listrik sudah masuk di daerah tersebut (coba tebak, lebih banyak daerah yang sudah atau belum teraliri listrik di indonesia ini…?). saya pernah melakukan pengembaraan desember, semacam napak tilas rute gerilya sudirman, dan tak jarang masyarakat yang hidup di dalam hutan-hutan kecil tak memiliki kamar mandi tapi tetap memiliki televisi pribadi. demikian pula di panggang, gunungkidul. di kampung nenek saya, payakumbuh (alias padang “coret”), juga padang, sangat umum terlihat rumah-rumah gedek berjejer yang luasnya paling-paling 3x3m, tetapi masing-masing mempunyai tv lengkap dengan parabola, satu-satu. jika ditanya, alasan mereka adalah, “tanpa parabola kami hanya bisa menonton tvri dan tv3 (tv malaysia).” lebih jauh dari itu, pertanyaannya adalah “mengapa harus menonton tv?” atau, lebih halusnya, “mengapa tv menjadi prioritas?” rupanya, tak jarang alasannya sederhana dan mungkin sudah bisa kita tebak: hiburan. ya, mereka butuh hiburan. di antara sekian ketidakjelasan, hiburan adalah pilihan tepat untuk mengisi waktu.

saya membandingkan dengan teman-teman dari daerah yang lebih “metropolitan”-lah, sebut saja begitu. mereka sudah bisa berpartisipasi aktif lewat internet. mengekspresikan diri, memilih konten-konten yang perlu dibuka (entah itu tulisan, audio, ataupun video), juga bertegur sapa. istilahnya, lebih “eksis” gitu, bukan sekadar menjadi penonton pasif. sehingga, bisa dimaklumi pula jika bagi mereka internet adalah prioritas. jika ditanya mengapa berinternet ria, tak sekedar “bermain-main, iseng, atau butuh hiburan” yang jadi jawabannya. tak sedikit yang menjawab dengan alasan-alasan “rasional bertujuan” atau istilah-bikin-muntah-nya “rasional instrumental”. mereka memang memerlukan internet, (termasuk laptop pribadi dengan spesifikasi tertentu dan perangkat pendukung lainnya) demi mencapai suatu tujuan “penting” tertentu, minimal “penting” bagi mereka. taruhlah, kalimat semacam “gue emang butuh, bukan gaya-gayaan” (oh, jadi bergaya bukan sebuah kebutuhan? butuh buat apa? hiburan?) bisa dijadikan penjelas yang mungkin lebih ngena untuk memahami merebaknya media yang satu ini di kota besar.

mulai dari kebutuhan studi-lah, (ya, mereka yang berada pada level ini cenderung “aman” dalam status terpelajarnya), sampai urusan dapur ngebul rumah tangga. televisi? sudah lewat masanya …. mereka yang sudah bekerja terkadang bahkan tak menengok tv samasekali. karena, di kantor tak ada tv sedangkan di rumah, oh, sungguh tak sempat lagi. mereka adalah manusia-manusia aktif yang memanfaatkan hidup dengan “sebaik-baiknya”. sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. dengan kalimat lain, “hiburan” adalah kata yang jauh terlalu sepele sekaligus menyepelekan bagi orang-orang dengan tingkat “kebutuhan” selevel mereka. meski terkadang, tanpa perlu disangkal atau ditolak, mereka juga tahu bahwa “hiburan” (diakui atau tidak) masih punya magnet bagi mereka. magnet untuk melakukan apa yang bagi mereka perlu dilakukan. barangkali, di balik semua alasan mulia yang terlontar, hiburan masih jadi alasan dan prioritas nomor satu yang membuat mereka melakukan sesuatu dari hati, dan, tanpa beban.

singkat kata, apa yang perlu, apa yang penting, apa yang sepele, apa yang produktif atau konsumtif, menjadi upaya-upaya pemilahan yang super-kabur dan tak jelas lagi bagi otak saya. sementara, apa yang nikmat, apa yang menarik bagi sang “rasa”, jauh lebih mudah dikenali dan dipegang. lebih sederhana dan lebih terasa gitu. tak perlu pakai benar salah. tentu saja, ini postingan ngawur, karena lintasan pikiran2 ngawur dalam kepala saya mendadak setengah bertanya, “mungkin inilah mengapa, untuk menimbulkan pengaruh, terutama secara (singkat, cepat dan meluas), hal tersebut pertama-tama perlu menyentuh dimensi rasa.” nah, anda bisa mencari sendiri contoh-contohnya.

pentingnya dimensi rasa ini seringkali membuat saya bertanya, pada diri sendiri tentunya, apalah hidup ini kalau bukan berhibur saja. berhibur menanti kapan berakhirnya. berhibur dengan cara mengisi hari-harinya. toh, berhibur itu baik. jauh lebih baik daripada marah, mengumpat, melakukan sesuatu karena terpaksa, apalagi mencederai orang entah dalam bentuk apapun. semua itu menimbulkan penyakit, sementara berhibur mengalihkan beban pikiran, melemaskan ketegangan urat syaraf dan melancarkan aliran darah (ah yang benerrr,, dua yang terakhir sepertinya tidak berlaku untuk main game visual). salahkah jika di celah-celah setiap keputusasaan masih ada hiburan? hiburan, membuat manusia bisa menerima keadaan “kentang” alias kena tanggung dalam kehidupan mereka. semacam, hidup enggan mati tak mau. lain cerita ketika hiburan telah menjelma menjadi belenggu baru. semakin tinggi angka ketergantungan terhadap hiburan, bagi saya semakin menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa tinggikah jumlah kehidupan yang tergadai oleh keterpaksaan? ah, atau, bahasa lebih sederhananya: hidup yang dijalani karena “ya mo bagaimana lagi?” mungkin anda, sebagai orang dewasa, bisa membantu saya memperkirakan jawabannya.

***

nb: jadi, benarkah telenovela sudah menghilang dari saluran tv indonesia? jika ya, sejak kapan? ah rupanya saya belum berhasil melakukan praktik “melihat sesuatu tak hanya apa yang ada, melainkan juga apa yang tak ada.”

nb2: saya habis terdampar ke blog orang tak dikenal yang … ya ampun, sungguh memusingkan untuk dibaca. dwibahasa tapi campur aduk jadi satu.

selama ini saya merasa abnormal jika ada yang menganggap bahasa saya baik dan benar atau apalah, dan saya juga merasa terbebani jika ada yang bilang kepribadian saya lebih dewasa daripada usia saya sebenarnya (membuat saya meratap merindukan kemudaan, ah … anehnya komentar ini seringkali terlontar!). hal ini membuat saya melakukan hal-hal untuk mendapatkan kesan sebaliknya. misalnya, dengan cara mencoba menulis secara amburadul-nggak-jelas-dan-super-slengean (tenang, saya udah ga ngefans slank lagi gara2 mereka jadi bintang esia milik si abu itu), serta bertingkah kekanak-kanakan.

setelah mengalami secara langsung betapa memusingkannya membaca tulisan yang mungkin dianggap “gaul” dan “tren masa kini” tersebut (bukan berarti saya anti-gaul juga), saya hanya ingin berbahasa sebagaimana yang saya tahu. ya, saya akui saya memang krisis identitas, karena … bahkan dalam berbahasa pun saya tidak percaya diri dan masih mencoba-coba. tapi, kali ini, mencoba menjadi diri sendiri ternyata melegakan juga. saya menulis ini tanpa beban, tak perlu berpura-pura. temanya aneh, cara menulisnya pun aneh, tapi selesai menulis rasanya lega. berbeda dengan model tulisan-tulisan ga jelas sebelumnya yang setelah selesai membuat saya merasa, “hah, kegilaan apa lagi yang saya lakukan barusan?!” diikuti dengan ketawa patah-patah.

namun, namanya juga belajar, tentu saya belum puas dengan hasilnya. saya merasa banyak bagian yang belum jelas poinnya, argumentasi ataupun datanya (saya terlalu malas untuk itu semua), juga kecenderungan saya dalam menyambungkan poin-poin secara acak, terlalu terburu-buru dan tidak halus. namun, untuk soal gaya, misalnya bagaimana agar tulisan itu menyentuh, menusuk, atau apapun, saya rasa masih belum menjadi urusan saya. karena, pertama-tama, apa yang disampaikan jelas. itu saja. tak bertele-tele soal gaya. berbunga-bunga seringkali menyebalkan dan pamer, patut dicurigai orang yang menulis biasa mempermainkan perasaan orang, berbumbu-bumbu seringkali harus hati-hati soal takaran yang pas. ah, tapi intinya saya masih belajar.

Read and post comments

mimpi aneh #5

meski tak semua terselamatkan ..

***

September 12th, 2008 3 Comments mimpi aneh

pagi ini, begitu bangun tidur aku langsung mengambil pensil dan buku harianku (tentu saja cuma aku yang tahu tempatnya ;-)
). selesai corat-coret, aku mandi, ganti baju dan bergegas ke pergi
dengan niat mau ngenet. “aman, aman …” pikirku dalam hati. ya, pagi ini
aku terbangun oleh mimpi aneh lagi, sudah aman tercatat dan akan
kutuliskan untuk kalian semua …. :-)

kenapa mimpi aneh #5? bukankah sebelumnya baru ada mimpi aneh #1 dan #2? mana mimpi aneh #3 dan #4?

sebenarnya jumlah mimpi anehku lebih dari itu, tapi yang sejauh ini
selamat tercatat cuma 5. dan, mimpi aneh #3 dan #4 belum kusalurkan di
blog ini.

hai, blog! apa kabar? aku berjalan kaki menuju peace.net, dapet
bilik nomer 9 yang headphone-nya tidak terlalu konyol dan menyiksa
kuping. syukurlah,,, karena saat ini aku sedang membutuhkannya untuk
melindungi diri dari serangan lagu “gimme gimme gimme gimmeh ah” yang
diputar memenuhi seantero ruangan warnet ini.
mulai aja ya, kupersembahkan untuk kalian “mimpi aneh #5″:

ada dua rombongan cewek sedang jalan-jalan, semacam darmawisata.
semuanya cantik, tanpa kecuali. sebagian besar yang aku liat memakai
kaos lengan panjang dan celana panjang seperti mau outbound.

nama lokasi yang muncul adalah “jalan riau”, tak hanya muncul dalam
percakapan, namun juga tertulis di plang jalan. aku dan rombongan terus
berjalan. kami bersama dengan rombongan kami saja, tidak bareng dengan
rombongan yang satunya.

jalan yang kami lalui adalah jalan setapak, di pedesaan yang masih
asri gitu. banyak rumah alami berlantai tanah yang sejuk, pohon2
merindangi juga bambu gitu (sayang sekali hanya jenis tanaman ini yang
aku kenali, menyedihkan ya :-P
). di sebuah belokan ada dua perempuan yang terlihat bingung. rupanya
mereka tersesat. keduanya berperawakan gempal, cuma yang satu agak
pendek dan raut mukanya menyenangkan. pemimpin rombongan kami, cewek
berambut panjang sampai sepantat, menanyai mereka, “mau ke mana?”.

mereka juga mau ke jalan riau.

“kalo mau ke jalan riau ya belok sini,” jelasnya sambil tersenyum, “kami juga mau ke jalan riau.”

akhirnya kami semua berjalan bersama. ada plang jalan riau I, kami
berjalan terus. suasana langit agak semu-semu coklat terakota berkabut
gitu.

setelah menampilkan raut muka bingung dan plonga-plongo
melihat-lihat keadaan sekeliling gitu, mimik perempuan gempal pendek
beraut muka menyenangkan itu berubah. gestur tubuhnya terlihat seperti
sedang bicara, “oh, iya ya.”

salah satu anggota rombongan menimpali sambil tersenyum, “ingat kan sekarang? lewat sini?”

padahal, rombongan kami dan mereka pada mulanya saling asing karena
belum pernah bertemu sebelumnya. ternyata kami bisa langsung akrab.
menyenangkan sekali. kami menikmati perjalanan sambil tertawa-tawa.

sampai di belokan berplang “jalan riau II”, kami belok dan tiba di
semacam tempat pertanian atau sawah. langit langsung benderang, tempat
itu lapang banget, kami lari-lari sambil ketawa-ketawa … “wow” … “wow”
….

kenapa aku bilang “semacam” tempat pertanian atau sawah? karena,
tempat itu bukan sawah. bentuknya pun sangat berbeda dari sawah “nyata”
yang sering kita lihat di berbagai daerah di indonesia. tempat ini
adalah semacam simulasi, lebih tepatnya museum budidaya pertanian.
“wow” ya? museum tapi luar ruangan gitu, tentang pertanian lagi.

cuma ada satu cara bertanam dan satu jenis tanaman yang diperagakan
di museum ini. satu jenis itu adalah semacam padi yang tinggi sekali.
lebih tinggi dari rata-rata tubuh manusia indonesia. tapi itu memang
padi, ditanam secara berkelompok membentuk bidang2 persegi berukuran
2,5×2,5 m2 (kira-kira), dan dilindungi dalam semacam gubuk atap rumbia
yang di bagian keliling dalamnya terdapat tempat duduk dari bambu,
semacam bale-bale gitu.

kami masuk ke salah satu gubuk. ternyata, namanya juga tanaman
peragaan, dari samping tanaman kami bisa liat secara terbuka bahwa
tanaman itu ditancapkan di lapisan spons kedap air. jadi lapisan tanah
di atas spons itu cuma hiasan aja, demikian juga air di bawah spons dan
gemericik sungai yang mengalir. semuanya cuma hiasan aja.

di dalam gubuk kami duduk-duduk sambil tertawa-tawa dan ngobrol riuh sambung-menyambung.

“ih jaman dulu ada lhooooo taneman padi kayak gini ….”

“en cara nanem kayak gini ….”

“hahahhaa ….”

“kalo gue sih cuma seneng karena di dalem gubuk tuh mereka* suka
nyembunyiin snak x (aku lupa namanya-nad.) terbaruuuu.” dia memamerkan
plastik snak kecil gambar muka beruang, seperti abis menemukan harta
karun di gubuk itu. “niiih liaaaat ….”

/keterangan: mereka*=pengelola museum/

“coba … coba ….”

“mana … mana?”

“sini … sini ….”

“hahaha … nemu di mana?”

“eh, rasa z (aku lupa namanya-nad.) aku belum pernah tau ada rasa itu ….”

“coba deh, cobaaaa ….”

rombongan serentak menyahut, “yeeee kan puasaaaa.” lalu pecah tawa terbahak.

salah satu anggota rombongan tiba-tiba menemukan yang ‘lebih baik’,
“gue nemu yang lebih baik.” dia mengeluarkan kotak kertas (ukuran
selusin), berisi donat lapis coklat dengan misis stroberi. ada beberapa
donat tapi tak berhasil diidentifikasi jumlahnya karena isi kotak itu
udah lengket semua satu sama lain, disirem saos coklat en jadi
mengeras/beku.

kami ketawa-ketawa berderai melihat “wujud” isi kotak yang seperti itu. “sampe lengket semua gini … hahahhahahhaa ….”

“coba dikeluarin satu.”

“niiiihh ….” lalu donat itu dikasihin aku en aku makan.

suasana langsung hening. mereka menatapku terhenyak takjub plus heran, “lhoooo, kan puasaaa????”

“oya oya … aku lupaaa!”, aku kaget tapi kuteruskan makanku.

“lho kok dimakan terus? kamu kan belum batal …?”

“lho???”, aku bingung, mulut penuh dan belepotan, ” … aku udah makan????” ekspresiku menunjukkan tanya ‘gimana???’

“tapi kamu kan lupa,” salah satu temanku menjawab, “jadi makannya ga sengaja, makanya belum batal.”

“aku udah batal belum, e?” aku masih bingung. donat itu masih nyangkut di tanganku yang menggantung di udara.

akhirnya kami cuma ketawa-ketawa dan melanjutkan perjalanan. udah ga makan donat lagi.

hari sudah gelap saat kami keluar dari museum budidaya pertanian.
lampu-lampu udah dinyalakan. kami lewat jalan setapak yang dinaungi
atap jerami. kanan kiri kami adalah saung-saung bambu kosong
berentetan. agak gelap karena lampu-lampu cuma ada di ujung jalan itu.
cahaya lampu baru bisa menerangi jalan setapak itu jika berhasil
menerobos sela-sela atap rumbia itu ….

bersamaan dengan keluarnya kami dari “lorong” itu, cahaya lampu
mulai penuh, dan kami disambut seorang laki-laki berperawakan tinggi
yang menghampiri dengan raut wajah agak khawatir dan buru-buru. ia
bicara cepat tentang rumor tertentu. “bisa dateng, kan? udah dengar,
kan? katanya sih beneran. malam ini.”

samasekali di antara kami belum ada yang tahu tentang rumor itu.
kami melihat rombongan satunya sudah duluan tiba di situ, duduk-duduk.
sepertinya mereka tidak menikmati perjalanan sebagaimana kami, karena
wajah mereka semua begitu kaku.

pemimpin rombonganku mengajak bicara pemimpin rombongan mereka,
entah tentang apa. pemimpin rombongan mereka menjawab dengan
bersungut-sungut, “ya sekarang ini. kamu pikir mau ngapain?
puas-puasin???”

dalam hati aku melihat pemimpin rombongan mereka itu dengan
tangannya yang dilipat di depan dan berkomentar dalam hati, “ih
cantik-cantik judes.” mungkin aku tak terima pemimpin rombonganku
dijawab dengan nada seperti itu.

aku juga sempat bingung dengan maksud pemimpin rombongan mereka itu.
rupanya ia harus segera ke tempat rumor itu dan ga akan “puas-puasin”
di daerah darmawisata itu.

kami pun pergi dan tahu-tahu sampai di semacam gelanggang tempat
olahraga. lantainya beralaskan matras senam yang terbuat dari ijuk. di
dalam tersusun rapi meja kursi sekolah model jadul (kursi dan meja yang
menjadi satu seperti model belanda). aku duduk di sebelah cewek kribo
cantik. di seberangku ada praktisi hukum ternama yang masih muda dari
ugm (bukan denny indrayana).

mata kami semua mengarah ke layar gede, semacam layar yang dipake
untuk presentasi pake OHP tapi ukurannya raksasa. di layar itu terlihat
wajah obama sedang berpidato di antara banyak audiens. omongannya tak
terdengar bagiku, cuma terlihat wajahnya menengok ke kanan kiri, depan,
mulutnya bergerak-gerak tidak keluar suaranya. kami semua khusyuk
menyimak diliputi perasaan was was menanti jawaban tentang rumor itu,
benarkah … benarkah … benarkah …. “bahwa indonesia bubar malam ini”.

tamat

**

inim mimpinya aneh banget n membingungkan makanya langsung aku cateeetttt ….

Read and post comments |
Send to a friend

from the past: mimpi aneh #1

sori gurlz, ni ceritanya "pelestarian" … dari masa lalu hehehehe. just skip it, okay? ;-)

***

Saat aku
bercerita soal teman2 yang mimpi aneh (maksudku bener2 mimpi pas tidur
itu), sebenarnya aku iri. Karena, dalam anggapanku, orang yang
dikaruniai mimpi ketika tidur tuh perasaannya halus, peka gitu lho,
bisa nangkep “getaran2″ alam semesta, demikian kata Pak Tris, guru
Bahasa Jawaku semasa SMP.

Dulu aku termasuk sering mengalami mimpi aneh. Kunikmatin begitu
saja, ngga ngerasa harus ngrumusin penjelasan. Sayangnya, sejak
hari-hari jadi capek banget, mimpi-mimpi itu ngga pernah hinggap lagi.
Kangen juga rasanya.

Ada sih temanku yang bilang dia bisa bikin mimpi. Gila ya, pembuat
mimpi. Itu cuma berlaku bagi dirinya sendiri, ga bisa bikinin mimpi
untuk orang lain. Katanya, cara dia tu gini … dia pikirin sesuatu yang
pengen dia mimpiin, mikirinnya harus terus-terusan sampe subuh, setelah
itu ketika tidur dia akan memimpikan apa yang dia pikirin tadi. Hm,
tapi, apa enaknya sih mimpi sesuatu yang udah kita ketahui sebelumnya?

Konon, kita ga akan pernah tau apa yang kita miliki sampe ngerasain
kehilangan. Emang sih, di dunia yang fana ini (tseileeeehhhh) apa sih
yang bisa kita klaim sebagai milik kita? Tapi, mau gimanapun, di sisi
lain, walau mungkin mimpi-mimpi itu bukan milikku (emang milik siapa?),
jujur, aku ngerasa kehilangan dan ga rela ketika mereka ga pernah lagi
datang barang sebentar. Sensasi kebingungan yang aneh dan melompong,
pikiran ga nyambung, melihat dunia dan hari-hari secara berbeda, dan
sensasi-sensasi lainnya yang kualami setelah mimpi aneh tu bener2
ngangenin.

Semasa remaja, aku pernah berniat mencatat mimpi-mimpi aneh yang
hadir. Abis, kadang-kadang sayang aja kalo hilang dan terlupakan. Meski
(kata orang) itu alam bawah sadar, ga jelas bin absurd-tapi, mungkin
emang dasar akunya yang pendendam, jadi … udah hobi kali ya … apa-apa
maunya disimpan-simpan. Baik atau burukkah ini? Ga tau ya :-D
Mungkin ini merupakan manifestasi dari obsesiku untuk memiliki sesuatu
(siapa tau?). Mungkin juga aku ga pengen jaim, ga malu2 nulis ini
karena terinspirasi ma penelitian seorang anak Sorong Papua tentang
chaos (lho apa hubungannya ya). Acak abissss …

Tentang order dan chaos, terkadang aku lelah dengan cara berpikir
kuliahan, ilmiah dll, harus tertata, ada penjelasan yang logis,
argumentatif, kalo bisa empirik, “benar” dan bla bla bla (ngomongnya
aja cape niy, hahahaa). Judulnya “kesombongan ilmu pengetahuan” tuh
kkekekekee. Hmmm, maaf ya hai mimpi-mimpi anehku, kalian kuperlakukan
-salah satunya- sebagai oasis di tengah kegersangan pola pikir (sok)
intelektual *huweeee*.

Oke, mulai aja deh. Akhirnya, kemarin aku mimpi aneh dan ingin kucatat sekarang.

::

berawal dari suara musik. pertunjukan live music tuh. instrumental.
bukan musik klasik. kayaknya semacam fusion gitu. cuma kedengaran
suaranya. mainnya asal tapi keren.

di bawah ada garasi, kecoklatan, gelap, ada dua atau tiga orang
duduk-duduk di kegelapan. kalo diliat dari sosoknya sih salah satunya
ada laki-laki gendut dan gondrong berkaus putih gitu. dia brewok dan
tertawa, matanya jadi sipit (aku ga tau siapa orang itu).

di luar ada hutan-hutan warna coklat. daun-daun gugur di jalan setapak. di dalem garasi, ada mobil model tua berwarna putih.

begitu aku naik pake tangga melingkar yang ada di tengah ruangan,
ternyata di atas itu bentuknya kapal pesiar (aneh ya? kok bisa). live
music masih ada terus. di lantai atas itu udah malem, langit gelap, di
tengah laut, angin kerasa banget.

di tiang-tiang kapal berwarna putih, aku ketemu dua orang teman yang
berusaha senyum terpaksa, tapi, matanya kayak mau nangis (aku kenal
siapa mereka). aku ngomong sama salah satu dari mereka -dia sempet
turun ke kantin di tempat live music itu-, “kemarin aku mimpi ketemu
kamu lho.” aku tuh inget mimpinya, tapi ngga tau apakah yang inget itu
aku yang di mimpi atau aku beneran yang sedang tidur. dan, ngga tau
juga mimpinya tu beneran kemaren atau kemarennya hari mimpi.

lalu aku mikirin mimpi kemarennya itu (nadya di alam mimpi mikirin
mimpi lain). mimpi lainnya tuh, hmmm, kami bertiga (ibuku, aku dan adik
bungsuku) pergi ke tempat fotokopian. ruangannya lowong dan bertembok
biru. bentuk mesin fotokopinya aneh, membulat di ujung-ujungnya.

ternyata mesin fotokopi itu rusak. petugas fotokopi nelpon buat
ngasih tau entah siapa. yang dateng dua temenku itu. ternyata mereka
pemilik usaha fotokopi itu. yang satu langsung bablas ke kamar mandi.
terus, begitu dia keluar, dia benerin mesin fotokopinya.

lalu, adegan kembali ke kapal pesiar di malam hari tadi. live music
ada lagi. temenku yang satu duduk di sofa coklat muda, coklat susu gitu
deh. bentuk sofa itu seperti huruf L. temenku yang satu lagi duduk di
depanku, di bawah tiang-tiang putih, di atas kasur putih berseprei
putih. ada dua kasur berjajar, di antaranya ada jeda yang dipakai untuk
tempat menaruh pantat. temanku itu memasukkan pantatnya di situ lalu
tidur dan berguling ke kanan satu kali, berputar tubuhnya lewat bawah,
lalu berguling lagi (jadi gerakannya tu membentuk satu lingkaran penuh
gitu kayak kambing guling). dia nangis tersedu-sedu, kacamatanya tetep
dipake. temenku yang di sofa rambutnya panjang, pake baju putih. dia
nangis juga, menutup mukanya, membelakangi aku. mereka bertanya,
“katanya mau *sensor-sensor* ya?” lalu yang satu bilang “selamat ya”
(dari tadi aku diem aja blum jawab apa-apa).

tapi mereka nangis terus. aku ngeliatin langit malam yang item. angin malam berhembus kencang dan suara ombak terdengar jelas.

Read and post comments

|

Send to a friend